Pengakuan Para Korban di SMKN 1 Nanggulan: Kapok Keracunan, Minta Diuangkan

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:33 WIB
Ilustrasi ratusan siswa diduga keracunan MBG di Ngadirojo, Wonogiri.
Ilustrasi ratusan siswa diduga keracunan MBG di Ngadirojo, Wonogiri.

 

 

KULON PROGO - Rentetan keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) membuat sejumlah penerima manfaat mengaku kapok. Beberapa penerima justru meminta agar MBG diganti menjadi program internet gratis hingga diuangkan.

Siswa SMKN 1 Nanggulan Anisa Gianila mengaku sempat mengalami gejala keracunan berupa sakit perut dan diare, pada Senin (3/8) lalu. Awalnya, remaja putri itu tak menyangka mengalami keracunan.

Namun, saat teman sekelasnya mengalami gejala serupa, ia baru menyadari. Hampir seluruh siswa dalam kelasnya mengalami gejala sakit perut, mual, hingga diare. "Saya tidak makan di kantin waktu itu, hanya makan MBG," ucap Anisa, Jumat (7/8).

Baca Juga: Pelayanan Publik Bukan Panggung Konten: Menjaga Etika dan Empati Layanan

Anisa tak dapat menuduh MBG menjadi sumber keracunan. Namun, selama ia bersekolah dan mengonsumsi makanan dari kantin belum pernah ada kejadian serupa. Di samping itu, gejala keracunan hanya muncul pada siswa yang mengonsumsi MBG.

Walau baru pertama kali mengalami gejala keracunan Anisa mengaku kapok. Pasalnya, rasa sakit di bagian perut membuatnya tak bisa fokus ke kegiatan belajar mengajar. Bahkan saat masih menerima MBG di hari selanjutnya, Anisa memilih tak memakan menu tersebut, karena khawatir. "Kapok juga, lebih baik diganti kuota internet gratis atau diuangkan," ungkapnya.

Anisa berharap, agar ada evaluasi perbaikan pada menu MBG. Lantaran, beberapa kali sajian MBG tak sesuai dengan seleranya, baik dari segi rasa dan menunya. Jika dibandingkan dengan makanan rumahan, ia lebih memilih masakan buatan orangtua. Apabila diminta memilih, Anisa lebih memilih program diganti menjadi kuota internet gratis atau diuangkan agar bisa dimanfaatkan keluarganya.

Baca Juga: Dipasang Garis Polisi, Penyidik Angkut Dokumen dan Perangkat Elektronik dari Kantor BMT Alfa Dinar Karangpandan Karanganyar

Sebelumnya, kejadian keracunan MBG sempat menghantui siswa SMPN 3 Wates Amalia. Dua kali terdampak keracunan MBG, membuat dirinya kapok dan trauma. Pasalnya, gejala keracunan benar terasa, berupa diare. Remaja perempuan itu berharap agar program MBG diperbaiki, jika tetap berjalan. "Ini sudah dua kali, rasanya sakit perut dan diare bolak-balik ke kamar mandi," ucap Amalia.

Amalia mengaku, lebih nyaman mengonsumsi makanan bekal dari orangtua dibanding MBG. Pasalnya, makanan buatan orangtua sesuai dengan selera mereka. Termasuk dari segi gizi, lauk yang disediakan lebih terjamin. Amalia bahkan memilih, MBG diuangkan menjadi Rp 10 ribu. Uang tersebut sebenarnya dapat digunakan untuk memasak bekal baginya dan keluarganya.

Baca Juga: Ratusan Bikers Komunitas Vario Ramaikan Vario Evo 160 Night Ride Session di Yogyakarta

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kulon Progo Triyono mengaku, kejadian keracunan di Bumi Binangun mencapai enam kali. Sejak dimulainya MBG pada 2025 ada tiga kali keracunan MBG. Sedangkan di tahun 2026 mencapai tiga kali keracunan. "Bahkan ada satu sekolah yang keracunan sampai dua kali," ungkapnya.

Kondisi itu membuat pemkab mengusulkan perbaikan pelaksanaan MBG ke Komnas HAM. Paling utama terkait pemetaan target. Pemkab mengusulkan agar target lebih difokuskan ke penerima yang membutuhkan, mulai dari balita dan ibu hamil. Lantaran, stunting baru diatasi saat anak masih berada di umur kandungan atau batita. (gas/pra)

Editor : Heru Pratomo
smkn 1 nanggulan triyono keracunan mbg KULON PROGO Mbg