KULON PROGO - Kabut tebal kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kulon Progo setiap pagi selama musim kemarau. Fenomena tersebut dipicu suhu udara yang dingin di tengah musim kemarau. Warga diimbau untuk waspada jika menemui kabut, terutama saat berkendara.
Prakirawan Stasiun Meteorologi (Stamet) Jogjakarta Bhakti Wira Kusumah mengatakan, kabut menjadi peristiwa lumrah saat musim kemarau. Perlu diketahui, wilayah Indonesia tengah menghadapi kemarau panjang hingga akhir tahun nanti. Alhasil, potensi munculnya kabut akan mengalami kenaikan.
"Kabut di musim kemarau cukup biasa, karena suhu udara dingin," ucap Bhakti, Minggu (9/8/2026).
Baca Juga: Lima Bulan Tak Hujan, Warga Girikikis Wonogiri Ambil Air di Luweng Sejauh 2 Km dari Permukiman
Bhakti menjelaskan, kabut di musim kemarau disebabkan oleh massa udara dingin dari Australia bertiup ke arah utara hingga mendekati daratan, terutama selatan Jawa. Massa udara dingin yang terbawa ke daratan, membuat suhu lapisan udara mengalami penurunan.
Di sisi lain, selama musim kemarau bumi menyerap panas lebih baik. Namun, dapat kembali mendingin selama malam hari. Bahkan suhu di Kulon progo mencapai batas minimum 20 derajat Celsius.
Kondisi permukaan yang panas saat siang hari, membuat adanya pelepasan uap air. Sedangkan saat malam hari, suhu mengalami penurunan.
Alhasil, lapisan udara yang mengandung uap justru mengalami proses kondensasi menjadi butiran air kecil. Butiran air itu, lantas tertahan di permukaan dan tak menjadi hujan.
"Kondisi itu membuat terjadinya kondensasi titik-titik air yang mengambang atau disebut kabut," ungkapnya.
Kabut saat kemarau tak banyak ditemui di wilayah lain. Hal ini dipengaruhi faktor geografis hingga vegetasi. Kulon Progo merupakan wilayah dengan jalur air yang banyak. Dengan banyaknya jalur air, pelepasan uap dan tingginya kelembaban menjadikan potensi munculnya kabut dapat terjadi.
Di samping itu, vegetasi di Bumi Binangun masih rapat dan tinggi. Kondisi ini, membuat suhu udara di musim kemarau lebih dingin. Hal ini tak berlaku di wilayah perkotaan. Lantaran, vegatasi perkotaan cukup jarang.
"Kalau di perkotaan vegetasi cukup sedikit, jadi munculnya kabut sangat rendah," jelasnya.
Bhakti mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat melihat kabut. Sebab, kabut dapat mengurangi jarak pandang bagi masyarakat yang berkendara di jalan raya. Kemunculan kabut diprediksi akan terus terjadi hingga akhir Agustus nanti.
Baca Juga: Baznas Kabupaten Purworejo Salurkan Rp 269 Juta untuk Rehab 35 Rumah Tidak Layak Huni
Sementara itu, warga Kapanewon Galur Poniman mengaku, akhir-akhir ini terdapat kemunculan kabut di sekitar permukiman tempat tinggal dan tempat usahanya. Bahkan kemunculan kabut sejak subuh hingga sekitar pukul 07.00.
"Paling tebal sekitar pukul 06.00 membuat jarak pandang terbatas," ungkapnya. (gas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita