GUNUNGKIDUL - Persoalan stunting masih menjadi pekerjaan rumah serius di Gunungkidul. Di Kapanewon Nglipar, prevalensi stunting mencapai 20 persen. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pun mendorong intervensi dilakukan sejak masa kehamilan hingga pemenuhan gizi di tingkat keluarga.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, penanganan stunting tidak cukup dilakukan ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan. Pencegahan harus dimulai sejak kehamilan, terutama dengan memastikan ibu hamil mendapatkan asupan gizi yang cukup.
Baca Juga: Rahasia Usus Sehat dari Segelas Olahan Fermentasi Nanas
Endah menegaskan, stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi juga soal kecerdasan. Sehingga ibu hamil masuk kelompok risiko tinggi menjadi salah satu sasaran utama intervensi. “Pemenuhan kebutuhan protein, vitamin, dan mineral dinilai penting untuk mendukung tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan,” kata Endah saat meluncurkan Kampanye Penggerakan Masyarakat Peningkatan Perilaku Hidup Sehat 2026 sekaligus meresmikan Poskesdes Sendowo Kidul di Kalurahan Kedungkeris, Nglipar Senin (10/8).
Salah satu bentuk intervensi dilakukan melalui pemberian paket pangan diet khusus kepada 55 ibu hamil risiko tinggi di Gunungkidul oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Upaya pemenuhan gizi juga didorong dari tingkat rumah tangga melalui program Taman Gizi.
Baca Juga: Tiga Dekade Lebih Mengabdi, TSI Jadikan Fotografi Satwa Warisan Kepedulian Lingkungan
Dalam program tersebut, kader Posyandu dan kelompok wanita tani (KWT) mendapat stimulan berupa bibit ikan lele dalam galon dan bibit sayuran. Program tersebut diharapkan tidak hanya membantu menyediakan sumber pangan bergizi, tetapi juga mendorong keluarga memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri.
Dengan demikian, upaya pencegahan stunting tidak berhenti pada pemberian bantuan. Melainkan dapat berlanjut melalui pola konsumsi dan pemanfaatan pangan di rumah.
Endah menegaskan, persoalan stunting perlu ditangani secara bersama-sama dengan melibatkan masyarakat dan berbagai pihak. Intervensi sejak kehamilan hingga masa pertumbuhan anak menjadi bagian penting untuk menekan prevalensi stunting.
Selain stunting, Pemkab Gunungkidul juga menghadapi persoalan hipertensi yang prevalensinya mencapai 39,25 persen atau tertinggi di DIJ. Sementara penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Gunungkidul baru mencapai sekitar 33 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan PHBS dan pemenuhan gizi masyarakat masih menjadi pekerjaan penting pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan warga. (cr1/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova