Akibat Diterjang Gelombang Tinggi Pantai Pandansimo, Tiga Rumah Rusak dan 55 Ha Sawah Terendam

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 18:58 WIB
PORAK-PORANDA: Kondisi rumah di pesisir Pantai Pandansimo rusak akibat diterjang gelombang tinggi sejak Selasa (11/8). (CINTIA YULIANI/RADAR PURWOREJO)
PORAK-PORANDA: Kondisi rumah di pesisir Pantai Pandansimo rusak akibat diterjang gelombang tinggi sejak Selasa (11/8). (CINTIA YULIANI/RADAR PURWOREJO)

BANTUL - Gelombang tinggi hingga tiga meter tak hanya merusak rumah warga di pesisir Pantai Pandansimo. Tetapi juga memicu tersumbatnya Muara Baros oleh pasir laut. Dampaknya, 55 hektare lahan pertanian di Tirtohargo dan Srigading terendam dan mulai mengancam hasil panen petani.

Di Pantai Pandansimo, Poncosari, Srandakan, tiga rumah warga mengalami kerusakan akibat terjangan gelombang Selasa (11/8) pagi. Satu rumah rusak parah, sedangkan dua lainnya mengalami kerusakan sedang.

Baca Juga: Diduga Lalai Saat Dicas, Sepeda Listrik Terbakar hingga Lahap Rumah Warga di Comal Pemalang

Sutini, pemilik rumah sekaligus warung mengaku, sedang menyiapkan dagangan ketika ombak setinggi atap rumah tiba-tiba menerjang. Ia dan suaminya menyelamatkan diri, tetapi rumah serta seluruh perabot dan perlengkapan warung rusak. “Saat ini saya tidur di rumah tetangga dan nggak jualan dulu,” kata Sutini Rabu (12/8).

Suaminya, Ngatiman mengatakan, hantaman gelombang membuat separo atap runtuh dan dinding depan rumah hancur. Air laut bahkan masuk sekitar 50 meter ke daratan. Dua rumah lain di sisi selatan juga mengalami kerusakan, meski saat kejadian tidak ditempati.

Koordinator Satgas Linmas Jogo Segoro Pantai Samas-Pandansimo Dwi Rias Pamuji mengatakan, selain tiga rumah rusak, satu perahu KNMP juga terdampak. "Kami terjunkan 10 personil untuk membantu membersihkan reruntuhan rumah warga kemarin," katanya.

Baca Juga: Harga Telur di Kulon Progo Sempat Rp 23 Ribu per Kilogram, tapi Hanya Sehari

Dampak gelombang tinggi ini, turut meluas ke sektor pertanian. Sebab pasir laut menyumbat Muara Baros, menyebabkan aliran sungai menuju laut terhambat. Akibatnya, 35 hektare (Ha) lahan pertanian berupa padi dan bawang merah di Kalurahan Tirtohargo, Kretek dan 20 hektare lahan di Kalurahan Srigading, Sanden terendam air laut.

Petani setempat Ngadio, 70, mengaku, sebanyak 220 ubin lahan bawang merah miliknya terendam air laut. Padahal, tanamannya diperkirakan baru bisa dipanen sekitar 20 hari ke depan. “Jika dalam waktu tiga hari air belum surut, tanamannya bisa mati,” ujarnya.

Lurah Tirtohargo Sugianto menyebut, pembukaan sumbatan dengan alat berat belum menjadi solusi permanen karena pasir berpotensi kembali menutup muara ketika gelombang tinggi terjadi. Fenomena tersebut biasanya berlangsung pada Agustus hingga September.

Baca Juga: Suara Muhammadiyah Buka Pusat Oleh-Oleh Jogja 1915, Sajikan Bakpia Cahya hingga Rendang Datuk

Karena itu, pemerintah kalurahan mengusulkan pembangunan tanggul pengaman sepanjang sekitar 1.300 meter di Sungai Winongo Kecil. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko banjir dan kerugian petani akibat limpasan air laut.

Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu bantuan satu alat berat dari BBWSSO. "Alat berat masih di Purworejo, Insya Allah nanti sore (kemarin, Red) mau dikirim ke sini," tuturnya. (cin/eno)

Editor : Sevtia Eka Nova
pantai pandansimo muara baros Lahan pertanian pesisir gelombang tinggi