KULON PROGO - Pantai Trisik di Kalurahan Banaran, Galur menghadapi ancaman berlapis. Abrasi yang terus menggerus garis pantai mulai mengancam kios, permukiman, dan lahan pertanian. Sementara gelombang tinggi hingga lima meter memaksa sekitar 30 nelayan menghentikan aktivitas melaut.
Warga Banaran Sudarsih mengatakan, dalam sekitar 10 tahun terakhir garis Pantai Trisik telah mundur hingga 50 meter. Padahal, ketika pertama kali membangun kios makanan, jaraknya sekitar 36 meter dari garis pantai. Kini, gelombang laut sudah menyentuh kiosnya.
“Gambarannya, kios saya ini paling belakang. Yang dekat dengan garis pantai awal ada sekitar 12 kios ukuran tiga meter,” ujarnya Rabu (12/8).
Abrasi bahkan semakin terasa ketika gelombang tinggi menerjang Pantai Trisik pada Selasa (11/8). Kondisi tersebut membuat warga khawatir pantai terus kehilangan daratan dan permukiman yang hanya berjarak belasan meter dari garis pantai ikut terancam.
Baca Juga: Akibat Diterjang Gelombang Tinggi Pantai Pandansimo, Tiga Rumah Rusak dan 55 Ha Sawah Terendam
Upaya warga menahan abrasi melalui penanaman mangrove, pandan laut, dan cemara belum membuahkan hasil maksimal. Sebagian mangrove hanya mampu tumbuh di kawasan muara. Sedangkan tanaman di sekitar pantai mati atau tersapu ombak.
Ancaman juga merembet ke sektor pertanian. Giyanto, nelayan sekaligus petani pesisir mengatakan, lahan cabai berpotensi terus tergerus. Abrasi juga dikhawatirkan membuat air laut masuk ke sumber air tanah sehingga sumur pertanian menjadi asin.
Dampaknya cukup serius karena kawasan pesisir Trisik merupakan salah satu daerah penyangga pasokan cabai. Jika air tanah tercemar air laut, petani berpotensi kehilangan lahan sekaligus sumber pengairan.
Di tengah ancaman abrasi jangka panjang, gelombang tinggi juga turut memukul kehidupan nelayan sepertinya. Terlebih saat gelombang mulai tinggi sejak tiga hari sebelumnya dan mencapai empat hingga lima meter pada Selasa (11/8).
Baca Juga: Polres Karanganyar Bekuk Pengedar Sabu Kelas Kakap, Sita 110 Paket Seberat 105 Gram Siap Edar
Sekitar 30 nelayan Pantai Trisik, lanjutnya, memilih tidak melaut setelah mendapat informasi peringatan dari BMKG. Perahu bermesin rendah dinilai tidak mampu menghadapi gelombang ketika berangkat maupun kembali ke pantai.
Padahal, saat ini sejumlah ikan seperti tenggiri dan cakalang sedang mudah ditemukan di perairan selatan. Namun, keselamatan membuat nelayan memilih menepi. Sebagian mengisi waktu dengan memperbaiki perahu dan perlengkapan melaut. Sementara nelayan yang memiliki lahan pertanian beralih menggarap cabai.
Panewu Galur Saryono menyebut, hasil peninjauan menunjukkan kondisi abrasi semakin mengkhawatirkan. Garis pantai mundur sekitar 50 meter dengan laju dua hingga lima meter setiap tahun.
Menurutnya, berbagai upaya berbasis pelestarian lingkungan belum mampu menekan laju abrasi. Karena itu, pembangunan pemecah ombak dinilai menjadi kebutuhan mendesak, seperti yang telah diterapkan di Pantai Glagah. Namun, pembangunan tersebut membutuhkan anggaran besar dan menjadi kewenangan pemerintah pusat.
Kordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulon Progo Aris Widiatmoko mengatakan, gelombang tinggi diperkirakan masih berlangsung hingga dua hari ke depan. Nelayan diminta tidak memaksakan diri melaut karena risiko keselamatan sangat tinggi. "Kami mengimbau agar nelayan tak memaksakan untuk melaut," pintanya. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova