KULON PROGO - Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) menjalankan kegiatan normalisasi Sungai Serang di Kulon Progo. Kegiatan normalisasi berupa pengerukan sedimentasi untuk mencegah banjir hingga kekeringan. Normalisasi akan dilakukan sepanjang musim kemarau 2026 ini.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSSO Vicky Ariyanti menjelaskan, normalisasi sungai merupakan kegiatan rutin pihaknya. Normalisasi dilakukan untuk mengangkat sedimentasi tanah yang mengendap di dasar sungai.
Pengerukan tanah dilakukan agar debit air sungai dapat tertampung dengan baik, dan tak menimbulkan banjir akibat luapan sungai. "Diangkat sedimentasinya, karena sedimentasinya sudah cukup parah membuat penyempitan," ucap Vicky, Selasa (18/8).
Target normalisasi Sungai Serang 2026 ini menyasar wilayah Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, tepatnya di bawah Jembatan Grahulan. Pengerukan sedimentasi ditargetkan sepanjang 500 meter dari kedua sisi sungai. Selain pengangkatan sedimentasi, tanggul sungai turut diperkuat agar tak longsor akibat gerusan aliran air.
Selama proses pengerukan, tanah sedimentasi akan dimanfaatkan Pemkab Kulon Progo untuk penimbunan lahan di Kawasan Stadion Cangkring. Tanah sedimentasi juga dapat dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur daerah sesuai pengajuan pemkab.
Pengerukan sengaja dilakukan selama musim kemarau. Selain pekerjaan lebih efektif, BBWSSO dapat membuat tempat penampungan air di sekitar lokasi pengerukan. Tampungan air itu digunakan untuk menyuplai air Bendung Pekik Jamal. Lantaran, selama musim kemarau bendung tersebut akan mengalami penurunan debit air, padahal memiliki tugas dalam mengairi kawasan pertanian.
Baca Juga: TNI Gadungan Ditangkap di Gunungkidul, Korban Tertipu Puluhan Juta Janji Muluskan Perizinan Usaha
Pengangkatan sedimentasi diklaim sebagai cara ampuh untuk mengurangi resiko banjir. Lantaran, kondisi Sungai Serang di Giripeni mengalami penyempitan. Penyempitan dan kurangnya ruang untuk aliran air membuat debit air sungai tak lancar. Alhasil, saat musim penghujan air sungai dapat meluap ke pemukiman. "Semakin dalam kondisi dasar sungai, maka debit air sekitar sumur akan turut bertambah," ungkapnya.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menjelaskan, normalisasi Sungai Serang sengaja diusulkan oleh pemkab. Lantaran, kondisi sungai semakin dangkal dan berpotensi membuat bencana banjir. Koordinasi dengan BBWSSO turut dilakukan selama proses pengerukan.
Terutama memanfaatkan hasil sedimentasi untuk urugan tanah pada Stadion Cangkring. "Normaslisasi menjadi bentuk mitigasi bencana banjir," ungkapnya. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo