Adipapa Kefi Eko Tune Galang Dana Gempa NTT, Lari 30 Kilometer Sehari sambil Bawa QRIS di Punggung

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:03 WIB
AKSI PENGGALANGAN: Adipapa Kefi Eko Tune saat ditemui tengah berlari di area Ring Road Utara Rabu (19/8). (Delima Purnamasari/Radar Purworejo)
AKSI PENGGALANGAN: Adipapa Kefi Eko Tune saat ditemui tengah berlari di area Ring Road Utara Rabu (19/8). (Delima Purnamasari/Radar Purworejo)

SLEMAN - Pagi bagi Adipapa Kefi Eko Tune biasanya diisi dengan aktivitas yang dia sukai. Berlari. Mengenakan jersey olahraga, smart watch, dan membawa soft flask di tangan, mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menyusuri jalanan Jogja. Namun, ada satu hal yang membuat aktivitas Adi kali ini berbeda. Di punggungnya, terpampang gambar QRIS dengan tulisan "Run for Flores (NTT)".

Bukan sekadar berlari untuk menjaga kebugaran, Adi sedang mencoba mengubah hobinya menjadi cara sederhana untuk membantu warga NTT yang terdampak gempa. "Saya juga pengen bantu, tapi saya bingung bantu dengan cara apa," kata pria yang akrab disapa Adi itu saat ditemui tengah berlari di seputaran Ring Road Utara Rabu (19/8).

Mahasiswa semester akhir Politeknik Kesehatan Permata Indonesia Yogyakarta menemukan cara lewat berlari. Selama dua hari terakhir, jarak larinya bukan lagi sekadar hitungan untuk menjaga stamina. Setiap kilometer yang ditempuhnya menjadi bagian dari aksi penggalangan dana bertajuk Run for Flores.

Baca Juga: Jonatan Christie Lolos ke 16 Besar Kejuaraan Dunia BWF 2026 Usai Taklukkan Jason Teh

Caranya cukup sederhana. Adi tetap berlari seperti biasanya, tetapi sembari membawa QRIS yang bisa dipindai siapa saja yang ingin berdonasi.

QRIS tersebut bukan milik Adi. Kode pembayaran itu milik Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (BEM KM FH UMY), yang juga tengah menggalang dana untuk membantu korban gempa di NTT.

"Saya sudah minta izin pakai barcode mereka untuk cari penggalangan dana dengan cara saya berlari aja," ujarnya.

Bagi Adi, berlari dipilih karena memang menjadi bagian dari kesehariannya. Dia merupakan anggota salah satu komunitas pelari di Jogja. Karena itu, dia merasa tidak perlu mencari cara yang rumit untuk ikut membantu.

Baca Juga: Babak Belur, Siswa SMP Diduga Jadi Korban Pengroyokan di Cileungsi

Hobi yang selama ini dilakukan untuk diri sendiri, kini dia coba bawa untuk tujuan yang lebih luas. Aksi Run for Flores itu akan terus dilakukan hingga 23 Agustus. Bertepatan dengan penutupan penggalangan dana yang dilakukan BEM KM FH UMY.

Setiap hari, Adi menargetkan berlari sejauh 30 kilometer. Rabu pagi itu, misalnya, dia memulai perjalanan dari indekosnya di Kalurahan Condongcatur, Kabupaten Sleman. Dari sana, dia berlari berputar hingga kawasan Malioboro sebelum kembali lagi.

Aktivitas tersebut dimulai sekitar pukul 06.00 dan baru selesai sekitar pukul 10.00. Empat jam berada di jalan tentu cukup menguras tenaga. Namun, Adi mengaku tetap menikmatinya. "Saya hanya terpikirkan untuk coba aja bantu. Walaupun tidak seberapa, intinya bantu," tuturnya.

Upaya sederhana itu rupanya mulai mendapat respons dari warga. Dalam dua hari menjalankan aksi, beberapa orang sempat meminta Adi berhenti ketika melihat QRIS yang terpampang di punggungnya. Mereka kemudian memindai kode tersebut untuk berdonasi.

Ada pula warga yang memberikan uang tunai secara langsung. Uang tersebut nantinya diganti Adi menggunakan uang pribadinya, kemudian dikirimkan melalui QRIS penggalangan dana.

Menariknya, Adi tidak memasang target nominal donasi. Dia juga tidak secara khusus memantau apakah setiap orang yang meminta berhenti benar-benar mengirimkan uang atau tidak. "Terserah mereka. Intinya kalau mereka bantu ya bersyukur, kalau enggak bantu ya enggak apa-apa," katanya.

Bagi mahasiswa Jurusan Farmasi itu, nilai dari aksinya bukan semata-mata soal seberapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Ada keinginan untuk menunjukkan bahwa membantu bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, bahkan dari sesuatu yang sudah menjadi kegemaran sehari-hari.

Selain itu, ada alasan lain yang membuatnya ingin melakukan aksi tersebut. Adi berasal dari Kota Soe, NTT. Beruntung, keluarganya tidak menjadi korban terdampak bencana sehingga dia bisa tetap fokus menyelesaikan kuliahnya di Jogja.

Adi berharap, bantuan bagi masyarakat NTT tidak berhenti pada donasi yang terkumpul. Menurutnya, masyarakat terdampak membutuhkan dukungan agar bisa kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya. (del/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
Adipapa Kefi Eko Tune galang dana Run for Flores Mahasiswa lari