Elektrifikasi Pangkas Biaya Produksi Petani Bawang di Parangtritis, Bantul

Editor Content • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:10 WIB
PANEN RAYA: Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat menghadiri proses panen bawang merah di Bulak Bungkus, Parangtritis, Ketek Kamis (20/8). (Aris Romadhon/Radar Purworejo)
PANEN RAYA: Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat menghadiri proses panen bawang merah di Bulak Bungkus, Parangtritis, Ketek Kamis (20/8). (Aris Romadhon/Radar Purworejo)

BANTUL - Petani bawang merah di Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Bantul mulai mengandalkan elektrifikasi untuk menekan biaya produksi. Pemanfaatan pompa listrik memangkas biaya pengeluaran hingga 88 persen.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Parangtritis, Kadiso mengatakan, pemanfaatan elektrifikasi menjadi salah satu faktor yang membantu petani meningkatkan efisiensi biaya produksi.

Pompa listrik digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan bawang merah. Dibandingkan metode sebelumnya, penggunaan listrik membuat biaya penyiraman menjadi jauh lebih rendah. "Elektrifikasi dimanfaatkan para petani sebagai alat light trap untuk pengendalian hama dan penyakit," jelas Kadiso saat panen raya Kamis (20/8).

Baca Juga: Desil Di-Update Tiga Bulan Sekali, Kenaikan Bisa karena Kepemilikan Rumah hingga Pendapatan

Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya petani menghadapi tingginya biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas. Terlebih, musim panen raya tahun ini menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Meski teknologi mulai membantu menekan biaya produksi, petani masih menghadapi persoalan tenaga kerja. Minimnya tenaga kerja lokal menjadi tantangan karena sebagian petani berusia lanjut sudah tidak sanggup melakukan pekerjaan berat. Sementara itu, generasi muda lebih banyak tertarik bekerja di sektor pariwisata. Kelompok tani akhirnya harus mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan di lahan.

Baca Juga: Bukan Cuma E Coli, 6 Bakteri Ditemukan di Kasus Keracunan MBG Kulon Progo, Ternyata ini Sumbernya!

Petani juga menghadapi persoalan keterbatasan pupuk bersubsidi. Kadiso mengatakan alokasi pupuk subsidi yang diterima hanya NPK Phonska. Sementara kebutuhan petani juga mencakup pupuk ZA dan SP. "Artinya kita harus membeli pupuk nonsubsidi dengan harga yang cukup tinggi," katanya.

Selain elektrifikasi, teknologi drone juga mulai dimanfaatkan petani milenial untuk pengendalian hama. Namun, alat tersebut masih berstatus pinjaman dari Maksitani. Kadiso berharap, pemerintah juga memperhatikan kebutuhan gudang penyimpanan hasil panen. Fasilitas itu penting agar petani bisa menerapkan sistem tunda jual ketika harga bawang turun saat panen raya.

"Ketika panen kita keringkan, menunggu harga naik sekitar 1 sampai 1,5 bulan. Ketika harga naik baru kita lepas. Karena tidak memiliki gudang," ujarnya.

Baca Juga: Duh…Pemuda di Sidoharjo Sragen Hobi Curi Pakaian Dalam Wanita, Ternyata Ini Alasannya

Petani bawang merah Parangtritis, Wandio mengatakan, hasil panen dari lahannya meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tahun lalu hasil dari lahan 1.000 meter persegi belum mencapai satu ton, tahun ini produksinya melonjak. "Melebihi 100 persen rata-rata, jauh lebih bagus sekarang," ujarnya.

Kondisi cuaca yang mendukung serta penggunaan benih unggul jenis Brambang Thailand turut menjadi faktor meningkatnya hasil panen. Dari sisi harga, petani juga memperoleh nilai jual lebih baik. Harga bawang merah saat ini berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram, naik dari sekitar Rp10 ribu per kilogram pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebut, panen raya bawang merah di Bulak Bungkus kali ini mencakup lahan seluas sekitar 200 hektare dengan produktivitas mencapai 21 ton per hektare. “Berarti lebih dari 4.000 ton panen hari ini kita dapatkan," ujarnya. (cr2/eno)

Editor : Sevtia Eka Nova
kalurahan parangtritis biaya produksi petani bawang merah elektrifikasi