Satgas Kesulitan Ungkap Penyebab Keracunan di Kulon Progo, Duga Sampel MBG Dihilangkan

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 20:11 WIB
DISTRIBUSI: Petugas SPPG mengangkut ompreng dari sekolah ke mobil penjemputan. (ANOM BAGASKORO/RADAR PURWOREJO)
DISTRIBUSI: Petugas SPPG mengangkut ompreng dari sekolah ke mobil penjemputan. (ANOM BAGASKORO/RADAR PURWOREJO)

KULON PROGO - Sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap tidak lengkap saat terjadi kasus keracunan di Kabupaten Kulon Progo. Kondisi tersebut membuat tim satgas kesulitan melakukan pemeriksaan laboratorium. Pemkab Kulon Progo bahkan mencurigai adanya sampel makanan yang sengaja disembunyikan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kulon Progo Triyono mengatakan, pemkab telah membentuk Satgas MBG untuk memantau pelaksanaan program sekaligus menangani kejadian luar biasa, termasuk keracunan makanan. Sepanjang 2025 hingga 2026, tercatat enam kasus keracunan yang berkaitan dengan MBG.

Baca Juga: Dengan Modal Rp 2,5 M, Taman Bunga di Taman Kyai Langgeng Magelang Kembali

Namun dalam sejumlah kejadian, satgas mendapati sampel makanan yang disimpan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak lengkap. Ada makanan yang tersedia, tetapi sejumlah menu lainnya justru tidak ditemukan.

“Sampel seperti nasi dan sayur ada, tapi sampel ayam tidak ada, jangan-jangan memang sengaja didelikke (disembunyikan),” ujar Triyono Rabu (2/9).

Triyono mencontohkan kasus keracunan yang terjadi di sejumlah sekolah di Kapanewon Nanggulan. Saat satgas mendatangi SPPG untuk mengambil sampel, makanan yang diberikan tidak dalam bentuk porsi utuh. Sampel hanya berupa sebagian dari menu yang disajikan kepada penerima MBG.

Kondisi tersebut membuat satgas mempertanyakan pengelolaan sampel makanan di SPPG. Terlebih, kejadian serupa disebut terjadi berulang dalam kasus keracunan sebelumnya.

Baca Juga: Sekolah Dibongkar untuk Pembangunan Kopdes, Siswa TK di Sidoarjo Belajar di Balai Desa

Padahal, penyimpanan sampel merupakan bagian penting dalam pelaksanaan MBG. Setiap SPPG diwajibkan menyimpan sampel makanan di food bank sebagai bahan pemeriksaan apabila terjadi keracunan. Ketika SPPG melakukan dua tahap memasak, sampel yang disimpan minimal dua sampel pada setiap tahap.

Sampel tersebut diperlukan untuk memastikan keamanan makanan sekaligus menjadi bahan pemeriksaan laboratorium ketika terjadi keracunan. Hasil pemeriksaan juga dapat menjadi dasar bagi SPPG untuk menunjukkan bahwa proses pengolahan makanan telah dilakukan sesuai prosedur.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulon Progo Susilaningsih mengatakan, persoalan sampel juga ditemukan dalam dua kasus keracunan MBG terakhir. Tim puskesmas tidak mendapatkan sampel makanan dalam kondisi utuh dan layak untuk diperiksa di laboratorium.

“Keracunan terakhir kali sampelnya dari feses dan muntahan,” lontarnya.

Minimnya sampel makanan membuat penyelidikan penyebab keracunan tidak dapat dilakukan secara maksimal. Dinkes akhirnya mengandalkan pendekatan epidemiologis untuk mencari kemungkinan sumber keracunan.

Melalui pendekatan tersebut, petugas melakukan survei dan penelitian untuk melihat pola kejadian, gejala yang dialami korban, serta faktor lain yang berkaitan. Data kemudian dibandingkan dengan hasil pemeriksaan laboratorium dari sampel yang tersedia.

Namun, keterbatasan sampel makanan membuat hasil penyelidikan belum tentu dapat memastikan menu atau makanan tertentu sebagai sumber keracunan. (gas/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
sampel makanan KERACUNAN KULON PROGO Program makan bergizi gratis (MBG) Mbg