JOGJA - Sembilan orang tua (ortu) mengungkap dugaan penelantaran dan kekerasan terhadap anak selama di Daycare Little Aresha dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jogja, kemarin (3/9). Sejumlah anak disebut mengalami penurunan berat badan signifikan, selalu haus saat dijemput, hingga perubahan perilaku dan kemampuan berbicara.
Salah satu bernama Choirunisa (saksi 1) mengungkapkan, anaknya mengalami perubahan drastis kondisi fisik dan psikologis anaknya selama dititipkan di daycare. Sebelum terdaftar di tempat penitipan anak tersebut, korban dikenal sebagai anak yang aktif, ceria, dan tidak takut berinteraksi dengan orang lain.
Namun, hanya dalam waktu dua minggu berada di Daycare Little Aresha, perilaku anaknya mengalami perubahan. Korban menjadi penakut, lebih banyak diam dengan pandangan kosong, serta kehilangan keceriaannya. Pun anaknya mengalami kemunduran perkembangan kemampuan berbicara.
“Kemarin sempat saya bawa ke psikolog. Dia (korban) sudah bisa berkata seperti nama, papa, makan, atau beberapa kata. Tapi setelah di daycare, semua kata itu lupa,” ungkap saksi tersebut di hadapan majelis hakim.
Baca Juga: Bobol Tembok dengan Palu 5 Kg, Residivis Gasak Beras dan Gabah Senilai Rp 6,2 Juta di Magelang
Selain perubahan perilaku, ia mengungkap penurunan kondisi fisik anak secara drastis. Berat badan anaknya diketahui merosot dari 9 kilogram menjadi 7,5 kilogram. Serta selalu dalam kondisi haus saat pulang dijemput usai mendapatkan pengasuhan.
Dalam proses persidangan, saksi tersebut juga mengungkap adanya indikasi kekerasan fisik pada tubuh korban. Saat dicecar pertanyaan jaksa mengenai bekas luka, saksi menyatakan menemukan luka bekas goresan di bagian punggung anak yang menyerupai bekas ikatan. “Bekas luka ada, terus juga ada bekas dari seperti ada ikatan,” bebernya.
Jaksa juga sempat menanyai saksi tersebut soal tanggapan orang tua perihal perizinan daycare. Menurut keterangan Choirunisa, ia mengaku pernah meminta dokumen izin kepada admin Little Aresha. Namun tidak pernah dikirimkan. “Izin tidak dikirimkan, cuma pamfletnya (brosur) saja yang dikirimkan,” sebutnya.
Baca Juga: Debat dengan AMPB, Rocky Gerung Tolak Hukuman Mati untuk Koruptor, Ini Pertimbangannya
Sementara saksi lain bernama Nova Syam atau saksi 2 mengungkap, anaknya yang berusia sembilan bulan selalu menangis histeris setiap kali hendak diantar ke daycare. Kondisi tersebut diperparah dengan sinyal penolakan yang terus-menerus ditunjukkan sang anak, meski usianya belum genap satu tahun dan belum bisa berbicara.
"Setiap malam sebelum tidur, saya selalu mengajak anak saya ngobrol. Saya bilang, besok di daycare lagi ya, anak baik, temannya banyak. Tapi anak saya selalu menggelengkan kepala. Itu tidak cuma sekali dua kali," tutur Nova saat memberikan kesaksian.
Ia sempat menganggap bahwa tingkah anaknya tersebut merupakan tindakan wajar anak-anak bayi. Namun, isyarat itu terus berulang setiap kali kata daycare disebut. Dampak fisik juga terlihat makin nyata pada tubuh sang bayi. Berat badan anaknya merosot drastis dan kerap mengalami sakit berulang seperti demam, batuk, hingga pilek.
Baca Juga: Spesifikasi Honda ST125 Dax, Motor 125 Cc dengan Transmisi Manual Empat Percepatan
Dugaan adanya perlakuan tidak wajar kian menguat ketika suami Nova menjemput anak mereka. Sang suami mendapati adanya bekas luka melingkar di kaki bayinya yang menyerupai garis bekas ikatan.
Selain itu, ia juga menceritakan beberapa kejadian yang menunjukkan ketakutan tidak biasa dari anaknya terhadap benda-benda tertentu. Misal sang anak mendadak sangat histeris dan ketakutan saat melihat neneknya mengenakan kerudung panjang.
“Kebetulan ibu saya itu menggunakan kerudung yang panjang, seperti yang saya pakai ini. Ketika itu anak saya ketakutan,” ungkap Nova.
Sebagaimana diketahui, kasus kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha terungkap usai polisi melakukan penggerebekan pada 24 April 2026 lalu. Dalam penangkapan tersebut polisi mengamankan 13 tersangka yang saat ini sudah berstatus terdakwa. Meliputi satu orang ketua yayasan, satu kepala sekolah, dan 11 pengasuh. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita