Konsumsi Ikan Gunungkidul Rendah, Dislautkan Catat Baru 32,26 Kilogram Per Kapita

Editor Content • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 21:15 WIB
MELIMPAH: Ikan lisong hasil tangkapan nelayan diburu warga di Pantai Baron. (Dzika Fajar/Radar Purworejo)
MELIMPAH: Ikan lisong hasil tangkapan nelayan diburu warga di Pantai Baron. (Dzika Fajar/Radar Purworejo)

GUNUNGKIDUL - Meskipun hasil tangkapan laut di Kabupaten Gunungkidul sedang tinggi, konsumsi ikan masyarakat setempat masih tergolong rendah. Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Kabupaten Gunungkidul mencatat konsumsi ikan saat ini baru mencapai 32,26 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut masih di bawah rata-rata konsumsi ikan nasional yang mencapai 59 kilogram dan DIY sebesar 36 kilogram per kapita per tahun.

Kepala Bidang Tangkap Dislautkan Kabupaten Gunungkidul Noor Ichsan mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Padahal, Gunungkidul memiliki potensi perikanan tangkap yang cukup besar.

"Saat ini angka konsumsi ikan di Gunungkidul baru 32,26 kilogram per kapita per tahun" kata Noor saat ditemui Jumat (4/9).

Baca Juga: Gempa M5,3 Guncang Cilacap, Getaran Terasa hingga Wilayah Bantul, Kulon Progo, dan Sleman

Melimpahnya ikan lisong di Pantai Baron, Kapanewon Tanjungsari, menjadi salah satu gambaran potensi hasil perikanan yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi ikan masyarakat.

Untuk mendorong konsumsi ikan, Dislautkan Gunungkidul berupaya memperluas pemanfaatan produk perikanan. Salah satunya melalui kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Noor mengaku, pihaknya telah berkoordinasi dengan korwil SPPG dan Yayasan Dharma Desa yang menaungi sejumlah SPPG di wilayah pantai selatan. Namun, jumlah pengolah dan pelaku usaha perikanan yang telah bekerja sama dengan SPPG masih terbatas.

 Baca Juga: Warga Keluhkan Data Desil Bansos, Komisi X DPR Targetkan BPS Perbaiki Maksimal 2 Minggu

Selain mengoptimalkan hasil perikanan tangkap, pemerintah juga mendorong budidaya ikan melalui program Mini RAS (Recirculating Aquaculture System). Teknologi tersebut ditujukan untuk budi daya ikan dalam skala kecil dengan sistem resirkulasi air.

Menurut Noor, pengembangan budi daya diperlukan untuk menjaga ketersediaan ikan. Sebab, hasil tangkapan nelayan tidak selalu tersedia sepanjang waktu dan sangat bergantung pada kondisi cuaca serta perubahan musim.

"Karena pemanasan global mungkin ya, jadi musim ikan tidak bisa kita tebak, hasil tangkapan nelayan," ujarnya.

Noor menyebut Pantai Sadeng saat ini menjadi salah satu wilayah yang relatif rutin menghasilkan tangkapan. Sementara hasil tangkapan di sejumlah pantai lainnya masih bergantung pada kondisi cuaca.

Dia berharap, potensi perikanan tangkap dan budi daya tersebut dapat terus dioptimalkan sehingga ketersediaan ikan semakin terjamin. Dengan demikian, konsumsi ikan masyarakat Gunungkidul diharapkan ikut meningkat dan mampu mendekati rata-rata konsumsi ikan di tingkat DIY maupun nasional. (cr1/eno)

Editor : Sevtia Eka Nova
konsumsi ikan dislautkan kabupaten gunungkiduk Kabupaten Gunungkidul ikan Diy