7 Fakta Ikan Lisong yang Dijual cuma Rp 10 Ribu dapat Tiga Ekor di Pantai Baron 

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 09:42 WIB
MELIMPAH: Ikan lisong hasil tangkapan nelayan diburu warga di Pantai Baron. (Dzika Fajar/Radar Purworejo)
MELIMPAH: Ikan lisong hasil tangkapan nelayan diburu warga di Pantai Baron. (Dzika Fajar/Radar Purworejo)

 

 

RADAR JOGJA - Ada yang mengejutkan, ya Pantai Baron, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, mendadak ramai Kamis (3/9) malam. Ratusan warga dari berbagai wilayah berdatangan sejak pukul 21.00 untuk berburu ikan lisong yang sedang melimpah.

Mereka rela menunggu nelayan pulang melaut. Begitu perahu tiba, warga langsung mendekat. Ikan hasil tangkapan berpindah dari nelayan ke pembeli tanpa harus melalui tempat pelelangan ikan (TPI). Harga yang ditawarkan pun relatif murah. Yakni sekitar Rp 10 ribu untuk tiga hingga empat ekor, tergantung ukuran ikan.

Baca Juga: Konsumsi Ikan Gunungkidul Rendah, Dislautkan Catat Baru 32,26 Kilogram Per Kapita

Na, sebenarnya jenis apa ikan lisong itu?

Bagi masyarakat pesisir, nama ikan lisong bukanlah hal asing. Ikan yang secara ilmiah disebut Auxis rochei ini telah lama menjadi bagian dari keseharian nelayan tradisional di berbagai penjuru laut Indonesia.

Secara taksonomi, ikan ini masih satu keluarga dengan tuna, sehingga di dunia internasional lebih dikenal dengan sebutan bullet tuna. Wujudnya memang lebih ramping dan mungil dibanding kerabatnya yang berukuran besar.

Kehidupan ikan lisong berlangsung di lapisan permukaan laut sebagai ikan pelagis. Sifatnya yang karnivora membuat ikan ini rentan menjadi tempat singgah parasit, sebuah hal yang patut dicermati sebelum ikan ini sampai ke dapur.

Ukuran tubuhnya tergolong sedang. Hasil pengamatan di perairan Majene, Sulawesi Barat, menunjukkan panjang tubuh ikan yang tertangkap nelayan berada di rentang 16,20 sampai 29,80 sentimeter, cukup ideal untuk konsumsi rumah tangga.

Yang membuat ikan ini istimewa adalah kandungan gizinya. Dagingnya menyimpan sekitar seperempat bagian berupa protein, ditambah mineral, lemak, dan sedikit karbohidrat, menjadikannya pilihan pangan sehat dengan harga terjangkau.

Tak mengherankan bila permintaan pasar terus merangkak naik. Kebutuhan gizi masyarakat yang tinggi membuat ikan tongkol, termasuk jenis lisong, semakin diburu di pasar-pasar tradisional maupun modern.

Uniknya, ikan betina lisong punya cara berkembang biak yang tidak biasa. Dalam satu ovarium, sel telurnya matang secara bertahap dan tidak seragam, sebuah strategi alami agar keturunannya tetap bisa bertahan di tengah tekanan penangkapan.

Baca Juga: Tujuh Kambing Milik Warga Tepus Mati dalam Kandang, Diduga Diserang Hewan Liar

Musim kawin ikan ini pun sudah terpetakan lewat penelitian panjang. Proses pemijahan berlangsung dari Juni hingga Oktober, dengan puncak kesuburan terjadi pada Juli dan Agustus setiap tahunnya.

Soal jumlah telur, ikan lisong tergolong subur. Dalam sekali memijah, seekor ikan betina bisa menghasilkan puluhan ribu hingga ratusan ribu butir telur, dengan rata-rata mencapai puluhan ribu butir per ekor.

Sayangnya, di balik kelimpahan itu, ikan lisong kini berada dalam bayang-bayang ancaman. Beberapa wilayah perairan bahkan disebut sudah mencapai batas eksploitasi penuh, kondisi yang membuat pemulihan populasi menjadi semakin sulit.

Kondisi ini diperparah oleh minimnya kesadaran sebagian nelayan akan pentingnya pelestarian. Ditambah lagi, temuan di Pulau Bangka mengungkap adanya beberapa jenis cacing parasit dalam tubuh ikan ini, sehingga proses memasak yang benar-benar matang menjadi kunci keamanan konsumsi.

Pada akhirnya, ikan lisong mengajarkan satu hal penting: kelestarian laut dan kesejahteraan nelayan adalah dua sisi mata uang yang sama, yang keberlangsungannya kini ada di tangan kita bersama.(Iwa Ikhwanudin/Radar Jogja)

Editor : Jihad Rokhadi
ikan lisong pantai baron Gunungkidul gizi