Target Full Pedestrian Malioboro November Batal Belum Beresnya Akses Lansia-Disabilitas Jadi Alasan

Guntur Aga Tirtana • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 20:39 WIB
Suasana kawasan semi pedestrian Malioboro, Kota Jogja, Selasa (8/9). Pemkot Jogja belum menetapkan penerapan full pedestrian di Malioboro pada November 2026. (Guntur Aga Tirtana/Radar Purworejo)
Suasana kawasan semi pedestrian Malioboro, Kota Jogja, Selasa (8/9). Pemkot Jogja belum menetapkan penerapan full pedestrian di Malioboro pada November 2026. (Guntur Aga Tirtana/Radar Purworejo)

JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja tidak lagi mematok target penerapan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian pada November 2026. Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menegaskan, eksekusi baru akan dilakukan setelah seluruh persoalan di lapangan memiliki solusi.

“Kalau kami tidak mematok target tanggal pasti, misal November. Bagi saya, pengkondisiannya itu betul-betul setelah tersolusi. Ada jalan solusinya, baru kita eksekusi,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja Selasa (7/9).

Baca Juga: Perkara Masa Jabatan Kapolri Ditarik, MK Akhirnya Kabulkan

Hasto mengatakan, hasil uji coba Malioboro sebagai kawasan bebas kendaraan masih menemukan sejumlah persoalan. Salah satunya berkaitan dengan keberadaan portal regol ayom yang dipasang untuk membatasi kendaraan bermotor masuk ke kawasan Malioboro.

Menurut dia, penutupan portal justru dapat menyulitkan pejalan kaki, khususnya lansia dan penyandang disabilitas, untuk masuk ke kawasan Malioboro. Karena itu, penerapan full pedestrian tidak bisa hanya berorientasi pada pembatasan kendaraan, tetapi juga harus memastikan akses pejalan kaki tetap mudah.

Hasto menyebut Pemkot Jogja telah berkomunikasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY terkait persoalan tersebut. Ia meminta penutupan portal tidak dilakukan secara kaku sehingga tetap dapat mengakomodasi warga maupun wisatawan yang hendak memasuki kawasan Malioboro.

“Jangan sampai portal itu justru menjadi masalah baru. Prinsipnya bagaimana kawasan pedestrian tetap bisa berjalan, tetapi akses bagi mereka yang memang membutuhkan tetap terakomodasi,” ujarnya.

Baca Juga: Duka di Balik Program MBG: Febiola, Siswi Berprestasi di Karo yang Kehilangan 70 Persen Ingatan

Pemkot Jogja juga mengusulkan agar posisi portal regol ayom dimajukan dan dibuat lebih menjorok ke tepi Jalan Malioboro. Dengan begitu, area selasar diharapkan masih dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk kendaraan bermanuver atau berputar, terutama bagi kendaraan yang tidak dapat memasuki kawasan pedestrian.

Sebelumnya, Pemkot Jogja melakukan uji coba perubahan arus kendaraan dari Jalan Beskalan menuju Jalan Ketandan. Ruas tersebut dipilih karena dinilai masih memiliki ruang yang cukup untuk kendaraan melakukan manuver. “Kenapa Beskalan ke Ketandan yang kita uji coba? Karena di situ kalau ditutup masih tetap ada ruang untuk exit. Untuk berputar kendaraan bisa, ke parkiran juga bisa,” kata Hasto.

Diketahui, Dishub DIY memasang portal regol ayom di 13 ruas jalan sebagai bagian dari persiapan penerapan full pedestrian Malioboro. Di sisi barat, portal berada di Jalan Abu Bakar Ali, Jalan Sosrowijayan, Jalan Dagen, Jalan Sosromenduran, Jalan Pajeksan, Jalan Beskalan, dan Jalan Reksobayan. Sementara di sisi timur meliputi Jalan Perwakilan, Jalan Sosrokusuman, Jalan Suryatmajan, Jalan Ketandan Kulon, Jalan Remujung, dan Jalan Pabringan.

Kepala Dishub DIY Chrestina Erni Widyastuti menyebut, pihaknya akan mengevaluasi operasional portal regol ayom setelah muncul keluhan dari masyarakat. Salah satu langkah yang disiapkan yakni menempatkan petugas di titik portal sehingga dapat membuka akses ketika ada pejalan kaki yang hendak melintas.

“Keberadaan petugas di titik regol ayom menjadi penting dalam penerapannya,” katanya. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Nova
full pedestrian malioboro akses Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo Pemkot Jogja Malioboro