SLEMAN – Rambut memutih dan langkah yang tak lagi secepat dulu bukan alasan untuk berhenti berkarya. Hal itu terlihat dari aktivitas para lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) DIY Unit Abiyoso yang tetap bersemangat mengikuti berbagai kegiatan keterampilan.
Pada Selasa (8/9/2026), sejumlah simbah mengikuti kegiatan keterampilan yang digelar di Unit Abiyoso. Mereka mencoba berbagai aktivitas, mulai dari membuat kemoceng, meronce, menyulam, hingga mempraktikkan pembuatan sabun.
Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut mungkin tampak sederhana. Namun bagi para lansia, setiap proses memiliki arti tersendiri. Ada kesempatan untuk mengasah keterampilan, menggerakkan tubuh, sekaligus mengisi waktu dengan kegiatan yang menyenangkan.
Tangan yang tak lagi sekuat ketika muda tetap telaten mengikuti setiap tahapan. Mereka memperhatikan arahan, mencoba satu per satu, dan sesekali berbincang dengan teman di sebelahnya.
Suasana kebersamaan menjadi bagian yang tak kalah penting. Kegiatan keterampilan membuat para penghuni panti memiliki ruang untuk saling berinteraksi. Canda dan percakapan ringan mengiringi proses ketika mereka menyelesaikan karya masing-masing.
Baca Juga: Bekas Karhutla Langsung Ditanami Sawit, Puan Maharani Minta Aparat Turun Tangan
Aktivitas seperti meronce dan menyulam juga memberikan kesempatan kepada lansia untuk tetap melakukan sesuatu secara mandiri sesuai dengan kemampuan mereka. Hari-hari tidak sekadar dihabiskan dengan duduk dan beristirahat, tetapi diisi dengan kegiatan yang membuat waktu terasa lebih bermakna.
Menariknya, proses belajar tidak berhenti meski usia telah memasuki senja. Para peserta tetap mencoba memahami langkah-langkah baru, mengingat arahan, kemudian mempraktikkannya hingga menghasilkan sebuah karya.
Bagi para lansia, keberanian mencoba hal baru menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menjaga semangat, membangun interaksi sosial, dan mengurangi kejenuhan dalam menjalani rutinitas sehari-hari.
Kegiatan keterampilan di lingkungan pelayanan sosial lansia juga menunjukkan bahwa usia bukan batas untuk terus belajar. Selama aktivitas disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan, para lansia tetap memiliki kesempatan untuk berkreasi dan menunjukkan potensi yang dimiliki.
Lebih dari sekadar menghasilkan kemoceng, rangkaian manik-manik, sulaman, atau sabun, kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman tentang kebersamaan dan kemandirian.
Dari tangan-tangan yang mulai menua itu, terselip pesan sederhana: usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk berkarya tidak harus ikut tua.
Sebab selalu ada ruang untuk belajar, mencoba, tertawa bersama, dan membuat hari-hari di usia senja terasa lebih berarti.