JOGJA - Kehadiran Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Kelok 23 dinilai membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Khususnya kawasan Bantul dan Gunungkidul.
Jalur yang membelah perbukitan dengan kontur berkelok itu tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antarkawasan pantai. Pemandangan pesisir Samudra Hindia dari ketinggian juga berpotensi menjadikan JJLS Kelok 23 sebagai destinasi wisata panorama, titik swafoto, dan lokasi singgah bagi wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata DIY Eling Priswanto mengatakan, JJLS Kelok 23 dapat mempermudah wisatawan mengakses berbagai destinasi pantai. Wisatawan dari Parangtritis, Bantul, misalnya, dapat menuju deretan pantai di Gunungkidul tanpa harus memutar melalui kawasan perkotaan.
“Seperti Parangtritis menuju deretan pantai di Gunungkidul tanpa harus berputar jauh lewat kota,” kata Eling Selasa (15/9).
Baca Juga: Dua Persen Lahan untuk Makam Jadi Dilema, Pemkab Magelang Minta Pengembang Tak Lepas Tangan
Menurut dia, meningkatnya pergerakan wisatawan di jalur tersebut dapat memunculkan berbagai aktivitas ekonomi baru. Warga sekitar berpeluang mengembangkan usaha kuliner, tempat istirahat atau rest area, kafe dengan pemandangan, hingga penginapan.
Selain membuka akses antardestinasi, JJLS Kelok 23 diharapkan mendorong wisatawan memperpanjang lama tinggal di DIY. “Saya kira bisa ya perkembangan pariwisata itu sifatnya insidental, orang berkunjung untuk berwisata hanya masalah berkelok-kelok, ya enggak. Mungkin tujuannya lebih dari itu,” ujar Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X di GOR Lembah UGM Selasa (15/9).
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY Aris Prasena mengatakan, JJLS Kelok 23 masih dalam tahap uji coba. Uji coba berlangsung mulai Senin (14/9) hingga Minggu (20/9).
Baca Juga: Sempat Disangka Boneka, Ternyata Balita Tenggelam di Sungai Winongo Kecil Bantul
Setelah uji coba selesai, pihaknya bersama instansi terkait akan melakukan evaluasi, termasuk terhadap aspek keselamatan dan kebutuhan pembenahan sebelum jalur tersebut dibuka penuh. “Evaluasi itu nanti menjadi bagian pertimbangan kapan full open traffic dilakukan,” kata Aris. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova