Suhu Udara Masuk Kategori Tinggi, BMKG Yogyakarta Ungkap di Kisaran 33-34 Derajat Celcius

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 20:30 WIB
Wisatawan mancanegara berjalan kaki saat kondisi cuaca cerah di kawasan simpang empat Tugu Jogja, kemarin (16/1). Cuaca cerah cenderung panas terus terjadi di wilayah DIY dalam beberapa hari terakhir.
Wisatawan mancanegara berjalan kaki saat kondisi cuaca cerah di kawasan simpang empat Tugu Jogja, kemarin (16/1). Cuaca cerah cenderung panas terus terjadi di wilayah DIY dalam beberapa hari terakhir.

JOGJA - Suhu udara di Yogyakarta terasa cukup panas dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kisaran suhu selama bulan September menyentuh 33,2 hingga 34,9 derajat celcius.

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Yogyakarta Etik Setyaningrum mengatakan, terjadinya suhu panas di DIY disebabkan oleh aktivitas El Nino. Fenomena pemanasan suhu muka laut Samudera Pasifik itu masuk kategori sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal tahun depan.

Cuaca terik dan minimnya tutupan awan juga dipicu oleh aktifnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering dari benua Australia. Hal tersebut ditandai dengan tiupan angin dari arah timur di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator.

Baca Juga: Dinas Pariwisata DIY Nilai JJLS Kelok 23 Buka Peluang Wisata dan Usaha Baru

Etik membeberkan, berdasarkan pantauannya suhu muka air laut di perairan selatan DIY menyentuh 26 hingga 28 derajat celcius. Kondisi itu secara langsung akan berdampak pada suhu udara daratan. Namun berdasarkan analisa BMKG suhu yang terjadi belum dikategorikan panas ekstrem.

“Masih dibawah ambang batas bila dibandingkan dengan suhu maksimal tertinggi yang pernah terjadi di bulan September, yakni 35.5 derajat celcius,” ujar Etik saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Selasa (15/9).

Menurut dia, fenomena suhu udara yang panas dan kering menyebabkan intensitas curah hujan di DIY berada pada kategori sangat rendah. Setidaknya hingga bulan November 2026.

Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika cuaca terik. Serta menjaga kecukupan cairan tubuh guna mengantisipasi dehidrasi

“Untuk tiga  bulan ke depan curah hujan masuk kategori rendah,” bebernya.

Baca Juga: Unik! Museum Jamin Ginting Berbentuk Kacang Tanah, Simpan Jejak Perjuangan dan Budaya Karo

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengingatkan di musim kemarau penularan penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) perlu diwaspadai. Bahkan pihaknya sudah mencatat peningkatan kasus.

Berdasarkan pendataan hingga bulan Juli lalu, Dinkes Kota Jogja mencatat total ada 61.845 kasus ISPA yang dilaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan.  Kasus didominasi oleh kategori usia dewasa: 27.791 kasus (44,9%), lalu disusul lansia: 11.038 kasus (17,8%), balita: 9.915 kasus (16,0%), anak: 6.695 kasus (10,8%), dan remaja: 6.406 kasus (10,4%).

“Upaya pencegahannya dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” pesan Endang. (inu)

Editor : Sevtia Eka Nova
suhu udara panas bmkg yogyakarta Kota Jogja Yogyakarta