SLEMAN - Hasil pemeriksaan laboratorium kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Turimenemukan bakteri Bacillus cereus pada dua sampel makanan. Bakteri tersebut terdeteksi pada sampel nasi dan bola-bola daging goreng yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto.
Selain Bacillus cereus, bakteri Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel nasi yang diambil dari SMPN 3 Turi. Sementara sampel bola-bola daging goreng dari sekolah tersebut negatif terhadap Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, berdasarkan penggabungan hasil pemeriksaan laboratorium, data epidemiologi, dan investigasi pangan, Bacillus cereus saat ini menjadi etiologi yang paling mungkin berkaitan dengan kejadian keracunan tersebut.
Baca Juga: Menu MBG Ayam Goreng Berlendir Buat 27 Siswa MTs Maarif Kulon Progo Mual dan Muntah
Meski demikian, Dinkes Sleman belum menetapkan penyebab definitif. Pemeriksaan lanjutan masih dilakukan untuk mengintegrasikan seluruh bukti yang tersedia.
Kasus keracunan tersebut terjadi setelah menu MBG dari SPPG Wonokerto dibagikan pada Senin (7/9). Menu yang diberikan terdiri atas nasi putih, bola-bola sapi goreng, edamame, kari kol wortel, dan semangka kuning.
Sebanyak 868 porsi menu telah dibagikan dan dikonsumsi penerima manfaat di enam satuan pendidikan. Keenamnya yakni SD Muhammadiyah Balerante, SMPN 3 Turi, SD Tarakanita Ngembesan, TK Indriyasana Ngembesan, SMK Muhammadiyah 1 Turi, dan SLB Tunas Kasih 2 Turi.
Data terakhir yang dihimpun hingga Jumat (11/9) pukul 12.30 menunjukkan terdapat 680 responden. Sebanyak 540 orang mengaku mengonsumsi MBG, sedangkan 140 orang tidak mengonsumsi menu tersebut.
Dari responden itu, 135 orang dilaporkan mengalami sakit. Sebanyak 23 orang berobat secara mandiri dan 112 orang mendapat pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan. Dua orang di antaranya sempat menjalani rawat inap.
"Gejala yang paling banyak dilaporkan antara lain pusing, mual, sakit perut, sakit kepala, lemah, muntah, dan diare," ujar Yuli.
Kepala SPPG Wonokerto Turi Rifqi Dimas Pratama mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium menjadi bahan evaluasi untuk memperketat proses pengolahan makanan, mulai dari penanganan bahan hingga makanan siap disantap.
Sejumlah langkah evaluasi dilakukan, antara lain memperkuat pemahaman relawan mengenai faktor pemicu bakteri, pendampingan oleh juru masak bersertifikat, pendisiplinan penggunaan alat pelindung diri, serta pemeriksaan laboratorium terhadap air secara berkala.
SPPG juga akan mencatat setiap tahapan pengolahan bahan pangan untuk memastikan proses berjalan sesuai prosedur.
"Untuk penerima manfaat yang terdampak semoga lekas pulih. Saya mewakili SPPG Wonokerto memohon maaf sebesar-besarnya," kata Dimas.
Setelah kejadian tersebut, pihak SPPG Wonokerto juga melakukan pendampingan terhadap penerima manfaat yang terdampak. Pendampingan dilakukan dengan mendatangi rumah penerima manfaat secara bertahap untuk mengetahui perkembangan kondisi mereka. (del)
Editor : Sevtia Eka Nova