Karya 100 Pembatik Disabilitas DIY Disiapkan Unjuk Gigi di Bandara YIA

Magang Radar Purworejo • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 05:50 WIB
Penyandang disabilitas mengikuti pelatihan membatik dalam kegiatan Membatik Bersama 100 Difabel di Pendopo Wiyata Praja, kompleks Kepatihan, Kota Jogja, kemarin (16/9). Kegiatan ini sebagai upaya untuk memperluas ruang berkarya bagi penyandang disabilitas sekaligus mendorong DIJ menjadi salah satu sentra batik difabel di Indonesia. Foto : Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Penyandang disabilitas mengikuti pelatihan membatik dalam kegiatan Membatik Bersama 100 Difabel di Pendopo Wiyata Praja, kompleks Kepatihan, Kota Jogja, kemarin (16/9). Kegiatan ini sebagai upaya untuk memperluas ruang berkarya bagi penyandang disabilitas sekaligus mendorong DIJ menjadi salah satu sentra batik difabel di Indonesia. Foto : Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

 

 

Sebanyak 100 penyandang disabilitas dari berbagai ragam kedisabilitasan berkumpul di Pendopo Wiyotoprojo, Yogyakarta, Rabu (16/9/2026). Mereka mengikuti kegiatan membatik bersama sebagai bagian dari langkah strategis membangun ekosistem pemberdayaan ekonomi inklusif sekaligus mewujudkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai salah satu sentra batik difabel di Indonesia.

Program ini merupakan buah kolaborasi antara Pemerintah Daerah (Pemda) DIY melalui Dinas Sosial DIY, PT Mandiri Utama Finance (MUF), dan organisasi Difabel Zone. Para peserta yang hadir mencakup penyandang disabilitas daksa, cerebral palsy, polio, rungu wicara, intelektual, mental, low vision, hingga autisme.

Baca Juga: Menu MBG Ayam Goreng Berlendir Buat 27 Siswa MTs Maarif Kulon Progo Mual dan Muntah

Kepala Dinas Sosial DIY Suyarno menjelaskan, kegiatan ini memperluas gerakan membatik yang sebelumnya telah dirintis Difabel Zone. Tidak sekadar pelatihan, para peserta juga dibekali bantuan perlengkapan membatik serta mendapat pendampingan intensif selama satu bulan agar mampu menghasilkan karya yang mandiri dan kompetitif.

"Ini adalah kolaborasi Pemda DIY dengan dunia usaha dan organisasi penyandang disabilitas. Harapannya program ini tidak berhenti pada keterampilan saja, tetapi juga membangun ekosistem usaha hingga DIY benar-benar menjadi sentra batik difabel," ujar Suyarno.

Hasil karya para peserta dijadwalkan dipamerkan pada peringatan Hari Disabilitas Internasional di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), Kulonprogo, Desember 2026 mendatang. Jika kualitas produk sudah siap diserap pasar, karya-karya tersebut akan dipasarkan secara komersial kepada publik sebagai bentuk keberlanjutan pemberdayaan ekonomi.

Baca Juga: Kemdiktisaintek Luncurkan SatuBeasiswa, 71 Program Beasiswa Terhimpun dalam Satu Portal

Dukungan senada disampaikan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X. Dalam sambutannya, Paku Alam X menekankan bahwa batik bukan sebatas warisan budaya, melainkan ruang partisipasi yang setara bagi semua kelompok masyarakat.

"Dari sinilah cita-cita menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu sentra batik difabel Indonesia memperoleh maknanya. Sebuah ekosistem tempat kebudayaan, kreativitas, pemberdayaan sosial, dan kemandirian ekonomi saling menguatkan," tegas Paku Alam X.

Sementara itu, perwakilan PT Mandiri Utama Finance melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi sarana dan pelatihan. Pihaknya meyakini keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya selama mendapat akses dan dukungan yang tepat, sehingga program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para peserta beserta keluarganya.

Abel Lia Nababan

 
Editor : Heru Pratomo
membatik Mandiri utama finance Pemda DIY penyandang disabilitas YIA