Dilema Gelaran Jamda RX-King meski Suara Bising Diprotes, tapi Ekonomi Lokal Terkerek

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 21:16 WIB
Bupati Sleman Harda Kiswaya. (Delima Purnamasari/Radar Purworejo)
Bupati Sleman Harda Kiswaya. (Delima Purnamasari/Radar Purworejo)

SLEMAN - Gelombang protes warga atas polusi suara dan asap dalam gelaran Jambore Daerah (Jamda) V Yamaha RX-King Indonesia (YRKI) di Maguwoharjo International Stadium (MagIS) Sabtu-Minggu (19–20/9) direspons cepat Pemkab Sleman. Meski mengakui perputaran uang dari ribuan penikmat otomotif sukses mendongkrak ekonomi lokal, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan permohonan maaf dan berjanji akan memperketat izin serta evaluasi event serupa.

"Kami mohon maaf apabila kegiatan kemarin di Maguwo menimbulkan rasa tidak suka dari sebagian masyarakat. Penggunaan knalpot brong yang bersuara nyaring ini tentu jadi catatan evaluasi ke depan," ujar Harda Senin (21/9).

Harda mengaku, Pemkab Sleman bersama kepolisian sebenarnya telah melakukan koordinasi dan menerbitkan standar persyaratan sebelum izin penggunaan lokasi diberikan. Namun, banyaknya jumlah peserta yang datang membuat petugas pengamanan kerepotan di lapangan.

Baca Juga: Disdikpora DIY Evaluasi Layanan SPPG, Soroti Ketepatan Waktu dan Higienitas MBG

Meski begitu, Harda mengimbau masyarakat untuk melihat event ini secara objektif. Sebab, kehadiran ribuan peserta dari berbagai daerah terbukti mendatangkan dampak finansial langsung bagi pelaku UMKM, pedagang asongan, juru parkir, hingga sektor penginapan di Bumi Sembada.

"Jambore ini juga mendatangkan uang ke Sleman sehingga perekonomian warga bertambah. Sampai hari ini kami belum mendapat laporan insiden menonjol dan situasi tetap terkendali," tegasnya.

Keluhan terkait bisingnya suara knalpot brong dan pekatnya asap pekat salah satunya dirasakan oleh warga Kalurahan Maguwoharjo, Dewi Arum. Meski memaklumi kegiatan tersebut merupakan ajang penyaluran hobi, ia mengaku secara pribadi merasa sangat terganggu. "Waktu terhirup, asap knalpotnya itu juga bau," ungkap Dewi Senin (21/9).

Baca Juga: Pemkot Yogyakarta Perkuat Peran Ormas untuk Bantu Persoalan Warga

Ia berharap kegiatan serupa di masa depan dapat dialihkan ke lokasi yang jauh dari kawasan permukiman. Alternatif lainnya, peserta diwajibkan menggunakan jenis knalpot yang lebih ramah lingkungan dan tidak memicu polusi suara.

Ketua Panitia Jamda V YRKI DIY Babhe Yatno turut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat di sekitar Stadion Maguwoharjo. "Kami memohon maaf soal suara dan asap. Kami mendengar dan memahami keluhan tersebut," tutur Yatno.

Yatno menegaskan, agenda dua tahunan ini merupakan kegiatan resmi yang telah mengantongi izin lengkap dari kepolisian maupun pengelola stadion, dengan pembatasan jam operasional.

Dia pun berjanji menjadikan seluruh kritikan warga sebagai bahan evaluasi. Ke depan, panitia siap meningkatkan intensitas koordinasi dengan pengurus RT/RW setempat serta menyiapkan sistem manajemen kebisingan yang lebih terukur. "Kami terbuka untuk kritik yang membangun. YRKI DIY ini milik Jogja, jadi Jogja harus tetap nyaman untuk semua," tandas Yatno. (del/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
RX-King ekonomi lokal Bupati Sleman Harda Kiswaya knalpot brong jamda