KULON PROGO - Kegeraman warga terhadap aktivitas tambang pasir di Sungai Progo, Padukuhan Karang, Tuksono, Sentolo, Kulon Progo memuncak. Puluhan warga menggelar demonstrasi dan menuntut operasional tambang dihentikan Sabtu (26/9) pagi.
Pantauan di lapangn, aksi dimulai dari sekitar Balai Kalurahan Tuksono pukul 08.07 WIB. Puluhan warga berjalan kaki menuju titik tambang yang berjarak sekitar 1,5 kilometer.
Baca Juga: 35 Bikers Honda ADV 160 Jelajahi Pantai Selatan Bantul dalam Petualangan Malam Penuh Misteri
Sepanjang perjalanan, warga menyampaikan orasi penolakan. Mereka juga menunjukkan sejumlah alat berat yang terparkir serta bekas aktivitas tambang berupa urukan dan galian. Warga menduga aktivitas pertambangan masih berlangsung dalam sepekan terakhir. Namun, saat massa tiba di lokasi tambang, tidak terlihat kegiatan operasional.
Aksi kemudian berlanjut ke kantor manajemen CV Barokah Karya Sejahtera (BKS). Di lokasi tersebut, warga kembali menyampaikan tuntutan agar aktivitas tambang dihentikan. Mereka juga meminta proses perizinan tambang yang diterbitkan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP ESDM) DIJ diperiksa. Warga menilai persoalan sosial di sekitar lokasi belum selesai.
Baca Juga: Diperuntukan bagi Warga Desil 1-4, Bulog Larang Keras Bantuan Pangan Diperjualbelikan
Juru bicara demonstrasi Yuninanto mengatakan, penghentian aktivitas tambang menjadi tuntutan utama warga. Menurutnya, warga terdampak belum pernah mendapatkan sosialisasi mengenai keberadaan dan operasional tambang. "Izin sudah keluar, tetapi sosialisasi tambang bagi warga terdampak belum pernah dilakukan," ujar Yuninanto seusai demonstrasi Sabtu (26/9).
Menurut dia, aktivitas tambang di Sungai Progo tidak hanya menjadi persoalan warga di sekitar Padukuhan Karang. Penolakan juga datang dari masyarakat di wilayah Bantul. Warga Padukuhan Sungapan dan Demangan, Kalurahan Argodadi turut mengikuti aksi.
Yuninanto menyebut aktivitas tambang sebelumnya sempat dihentikan. Saat itu, terdapat rekomendasi dari DPUP ESDM DIY agar persoalan sosial yang muncul diselesaikan terlebih dahulu.
Baca Juga: Diperuntukan bagi Warga Desil 1-4, Bulog Larang Keras Bantuan Pangan Diperjualbelikan
Namun, warga menilai persoalan tersebut belum tuntas. Kondisi itu kemudian mendorong masyarakat kembali melakukan aksi. "Yang kami minta adalah tambang dihentikan sampai masalah sosial ini diselesaikan," tegasnya.
Warga menilai penghentian diperlukan agar tidak terjadi persoalan yang lebih besar di tengah masyarakat. Selain itu, mereka meminta adanya komunikasi terbuka dengan masyarakat yang berada di sekitar lokasi tambang.
Sementara itu, Kapolres Kulon Progo AKBP Ridho Hidayat mengatakan, kepolisian hadir untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama demonstrasi berlangsung. Polisi juga menampung aspirasi warga.
Namun, terkait penghentian operasional tambang, kepolisian perlu berkoordinasi dengan instansi terkait karena aktivitas tersebut telah mengantongi izin. "Kami hanya bisa mengimbau agar masyarakat mengeluarkan aspirasi dengan cara baik," ungkapnya.
Demonstrasi tersebut menunjukkan penolakan warga terhadap aktivitas tambang pasir di Sungai Progo semakin terbuka. Warga meminta aktivitas tambang dihentikan hingga persoalan sosial dengan masyarakat terdampak benar-benar diselesaikan. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova