Full Pedestrian Malioboro Dikeluhkan Driver Ojol, Wakanda Jogja Khawatir Performa Turun

Magang Radar Purworejo • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 20:43 WIB
MENGULAR: Para pengemudi ojek online (ojol) antre untuk mendapatkan sedekah yang dibagikan oleh salah satu produsen bakpia pathok, di Jalan KS Tubun, Kota Jogja, kemarin (11/4). Sedekah tersebut guna membantu sebagian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan jelang Lebaran. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
MENGULAR: Para pengemudi ojek online (ojol) antre untuk mendapatkan sedekah yang dibagikan oleh salah satu produsen bakpia pathok, di Jalan KS Tubun, Kota Jogja, kemarin (11/4). Sedekah tersebut guna membantu sebagian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan jelang Lebaran. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

YOGYAKARTA - Kebijakan penataan kawasan pedestrian Malioboro menjadi perhatian driver online. Akses kendaraan yang terbatas dinilai dapat membuat waktu pengambilan pesanan bertambah. Di sisi lain, driver tetap dibebani batas waktu yang ditentukan sistem aplikasi.

Ketua Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Jogjakarta, Rie Ramawati, mengatakan kondisi tersebut paling terasa ketika driver mendapat pesanan makanan atau barang yang titik pengambilannya berada di kawasan Malioboro.

Menurutnya, driver tidak selalu bisa langsung menuju titik pengambilan pesanan karena adanya pembatasan akses kendaraan. Kondisi tersebut semakin menyulitkan ketika kawasan Malioboro mengalami kepadatan.

Baca Juga: Polisi Tetapkan Ayah Kandung Jadi Tersangka dalam Kasus Pencabulan Balita di Sleman

“Kalau Malioboro dijadikan full pedestrian, teman-teman driver online itu kesulitannya untuk titik ambil orderan. Kalau penumpang kita juga kesulitan, untuk makanan dan barang kita juga kesulitan,” kata Rie, Kamis (1/10).

Rie menjelaskan, persoalan tersebut berkaitan dengan sistem waktu yang diterapkan aplikator. Driver memiliki batas waktu tertentu untuk mengambil dan menyelesaikan pesanan. Sementara itu, kondisi lalu lintas dan akses menuju titik pengambilan tidak selalu dapat diprediksi.

Ia mencontohkan, ketika driver mendapat pesanan dengan jarak pengambilan cukup jauh, waktu perjalanan menuju restoran bisa bertambah akibat kepadatan lalu lintas.

Baca Juga: Viral! Pohon Flamboyan 40 Meter Tumbang di Bogor, Timpa Empat Warga dan Dua Motor

“Misalnya ambilnya kita jauh, tiga kilometer, sampai ke sini sudah kena macet. Itu tidak akan cukup waktunya sampai ke resto,” ujarnya.

Bagi driver, persoalan waktu bukan sekadar keterlambatan pengantaran. Pembatalan pesanan juga dapat berdampak terhadap performa mereka di dalam sistem aplikasi.

Rie mengatakan, pembatalan yang dilakukan driver maupun sistem dapat memengaruhi level pengemudi. Penurunan level tersebut kemudian dapat berpengaruh terhadap jumlah order yang diterima maupun insentif.

Baca Juga: Tampilan Makin Berani, CRF1100L Africa Twin Siap Temani Petualangan

“Kalau performa kita turun, kita akan mendapatkan orderan lebih sedikit. Ada sistem leveling di driver. Itu akan menurunkan sistem level kita. Pengaruhnya banyak juga,” jelasnya.

Persoalan serupa juga terjadi pada titik jemput penumpang. Tidak semua penumpang memahami bahwa driver tidak dapat masuk hingga lokasi yang mereka tentukan ketika akses kendaraan dibatasi.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan keluhan karena penumpang tetap meminta dijemput di titik tertentu. Padahal, driver harus menyesuaikan lokasi dengan akses kendaraan yang tersedia.

Baca Juga: Tampilan Makin Berani, CRF1100L Africa Twin Siap Temani Petualangan

Selain akses, persoalan parkir juga menjadi perhatian. Terutama untuk driver yang mengantarkan makanan maupun barang. Driver membutuhkan ruang untuk berhenti sementara agar dapat mengambil pesanan dari restoran.

Rie berharap pemerintah daerah tidak hanya mempertimbangkan aspek penataan kawasan, tetapi juga kondisi operasional driver online yang setiap hari melayani masyarakat.

Dia mendorong adanya pertemuan yang melibatkan pemerintah, aplikator, pemilik restoran, serta perwakilan driver. Dengan demikian, solusi yang dibuat tidak hanya menguntungkan satu pihak.

Baca Juga: Netizen Soroti Pesan Gibran Soal Keracunan di Batang: “Bawa Bekal Dari Rumah, MBG Jangan Dimakan"

“Harapannya tetap ada pertemuan lagi dengan pemilik resto, aplikator, driver, dan stakeholder terkait agar ada solusi terbaik untuk semuanya. Tidak hanya buat driver, tetapi juga buat resto dan aplikator,” katanya.

Persoalan pekerja berbasis platform digital juga menjadi bagian dari aspirasi yang disampaikan dalam Mimbar Bebas dan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) DIY di DPRD DIY.

Dalam audiensi tersebut, pekerja mendorong agar keberadaan pekerja yang bekerja melalui platform digital mendapat kepastian perlindungan dalam regulasi ketenagakerjaan. Mereka juga menyoroti kedudukan perusahaan aplikasi sebagai pihak yang memiliki hubungan dengan pekerja berbasis platform.

Baca Juga: Museum Kesaktian Pancasila Tampil dengan Wajah Baru, Prabowo Resmikan Revitalisasi di Lubang Buaya

Aspirasi tersebut mencakup kejelasan status pekerja, perlindungan pendapatan, hingga transparansi sistem aplikasi yang selama ini digunakan dalam menentukan mekanisme kerja dan pemberian order.

Bagi driver online di lapangan, persoalan tersebut menjadi semakin nyata ketika kebijakan tata ruang dan lalu lintas seperti pedestrian Malioboro berhadapan dengan sistem kerja aplikasi yang memiliki aturan waktu tersendiri.

Rie berharap seluruh pihak dapat duduk bersama untuk mencari mekanisme yang tetap mendukung penataan Malioboro tanpa mengabaikan kebutuhan driver dalam menjalankan layanan kepada masyarakat.

Abelia Nababan

Editor : Heru Pratomo
Wakanda Jogjakarta driver ojol full pedestrian malioboro kemacetan MPBI DIY