YOGYAKARTA – Angka prevalensi stunting di Kota Yogyakarta mencatatkan tren penurunan signifikan. Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) periode Agustus 2026, angka stunting Kota Yogyakarta berada di posisi 8,25 persen, melandai dari capaian tahun 2025 yang tercatat sebesar 9,71 persen.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, menjelaskan bahwa keberhasilan menekan angka stunting ini tidak lepas dari konsistensi pelaksanaan intervensi spesifik kesehatan yang dilakukan secara masif dan terstruktur.
Baca Juga: Warga Gunungkidul Tukar Upal dengan Saldo DANA, Pelaku Beraksi di Tiga Kabupaten
"Capaian penanganan stunting yang terus membaik ini merupakan hasil intervensi spesifik yang kami lakukan menyasar kelompok rentan, mulai dari remaja putri, ibu hamil, hingga balita," ujar dr. Lana, Selasa (6/10/2026).
dr. Lana merincikan, langkah pencegahan stunting dihulu dimulai dari skrining anemia serta edukasi dan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri. Untuk kelompok ibu hamil, Dinkes mewajibkan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, pemberian Multiple Micronutrient Supplement (MMS) atau TTD, serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil dengan risiko Kurang Energi Kronis (KEK).
Baca Juga: Pasca Gempa NTT, AHM Perkuat Layanan Kesehatan untuk Mobilitas Produktif Masyarakat
Sementara pada pengawasan anak usia dini, upaya berfokus pada pemantauan tumbuh kembang balita secara berkala di posyandu, dorongan pemberian ASI eksklusif, penyediaan PMT, perluasan cakupan imunisasi, hingga tata laksana khusus bagi balita yang mengalami masalah gizi.
"Edukasi berkelanjutan kepada remaja putri, ibu hamil, serta keluarga balita terus kami perkuat agar kesadaran akan pentingnya gizi seimbang menjadi gaya hidup masyarakat Kota Yogyakarta," pungkasmya.
Editor : Heru Pratomo