GUNUNGKIDUL - Membatik bagi siswa di Gunungkidul bukan sekadar menghasilkan kain bermotif. Mereka didorong mengolah kreativitas dengan menerjemahkan lingkungan, pengalaman, dan nilai yang ada di sekolah menjadi motif yang memiliki filosofi dan makna.
Hal tersebut terlihat dalam Pertunjukan Rakyat (Pertunra)/Pendidikan Rakyat dan Pameran Batik Gayeng Guyub Sidomukti di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Kamis (8/10). Kegiatan yang digelar Pemkab Gunungkidul melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) itu melibatkan perwakilan 11 sekolah.
Karya yang lahir dari proses tersebut selanjutnya didorong agar memiliki keberlanjutan. Pemkab Gunungkidul meminta motif khas sekolah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sekaligus mendorong pendampingan pemasaran agar karya siswa berpeluang dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.
Baca Juga: Pemilos E-Voting di Kulon Progo sebagai Persiapan bagi Pemilih Pemula Pemilu 2029
Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Gunungkidul Asbani mengatakan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang komunikasi antarsekolah. Siswa dapat berinteraksi dan melihat proses kreatif yang dilakukan sekolah lain.
Menurutnya, proses membatik juga memperkuat pembelajaran yang berorientasi pada proses. Siswa belajar melalui tahapan menciptakan karya, bukan hanya mengejar hasil akhirnya. “Dengan membatik harapannya dapat memberikan dorongan kreativitas kepada siswa,” ujarnya.
Kepala Diskominfo Gunungkidul Setiyo Hartato mengatakan, Pertunra dirancang sebagai ruang interaksi, ekspresi dan komunikasi publik antara pemerintah daerah dengan masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-196 Gunungkidul sekaligus menindaklanjuti imbauan penggunaan batik selama satu bulan.
Baca Juga: HUT ke-270 Jogja, 74 Tim Pelajar Adu Kreativitas Lewat Lomba Mural
Setiyo mengatakan kegiatan tersebut juga mendukung program Gunungkidul Berdikari dan Bocah Pinter. Kreativitas yang tumbuh dari sekolah diharapkan menjadi bagian dari pembentukan kemandirian siswa.
“Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan dapat memahami bahwa kreativitas dapat dimulai dari rumah dan sekolah, sehingga nilai kemandirian serta semangat berdikari terwujud di Kabupaten Gunungkidul,” katanya.
Selain kreativitas, membatik juga mengajarkan ketelitian, kesabaran dan kemampuan menghargai proses. Karena itu, batik dipandang bukan hanya sebagai warisan budaya dalam bentuk kain dan motif, tetapi juga sebagai media untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai kepada generasi muda. (zik)
Editor : Heru Pratomo