GUNUNGKIDUL - Program pemberian pakan monyet ekor panjang di Kabupaten Gunungkidul menghadapi persoalan keberlanjutan. Selain tak lagi mendapat alokasi Dana Keistimewaan (Danais) pada 2027, pemberian pakan secara rutin juga dikhawatirkan mengubah perilaku satwa dan membuatnya bergantung pada manusia.
Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Hana Kadaton Adinoto mengatakan, program pemberian pakan yang berjalan sejak Maret hingga Desember 2026 itu sejak awal hanya ditujukan sebagai solusi jangka pendek untuk mengurangi serangan monyet ke lahan pertanian warga.
“Tujuannya hanya dalam rangka mengantisipasi supaya tidak merusak lahan pertanian warga,” ucap Adinoto. Minggu (18/10).
Baca Juga: Banjir Ucapan dan Doa dari Tokoh hingga Masyarakat di Hari Ulang Tahun Prabowo Subianto
Program tersebut dilaksanakan di tujuh titik yang tersebar di Kalurahan Purwodadi, Sidoharjo, dan Tepus. Menurut Adinoto, serangan monyet dilaporkan berkurang di sejumlah lokasi. Namun, pelaksanaannya juga memunculkan persoalan sosial karena warga yang tinggal di sekitar lokasi pemberian pakan menyampaikan protes.
Selain persoalan sosial, Adinoto mengkhawatirkan pemberian pakan secara terus-menerus dapat mengubah pola makan dan perilaku monyet ekor panjang.
Satwa tersebut berpotensi terbiasa menunggu makanan yang disediakan manusia sehingga mengurangi kebiasaan mencari makan secara mandiri. “Mereka nanti akan selalu njagake, dan nggak akan ada usaha untuk mencari makan sendiri,” ungkapnya.
Baca Juga: Air Surut Hambat Evakuasi, Hiu Tutul Terdampar di Pantai Parangkusumo Mati
Ketika pemberian pakan terhenti atau mengalami jeda, monyet dikhawatirkan kembali mendatangi permukiman warga untuk mencari makanan. Karena itu, program tersebut dinilai tidak bisa menjadi satu-satunya andalan untuk mengatasi konflik antara satwa dan manusia.
Di sisi lain, gangguan monyet masih menjadi perhatian petani. Suyadi, petani di Kalurahan Purwodadi, mengatakan kawanan monyet belakangan jarang mendatangi lahannya. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan tidak adanya lagi pemberian pakan. “Akhir-akhir ini jarang ke sini, mungkin cari makan di tempat lain, mungkin karena nggak ada stok makanan,” kata Suyadi.
Meski demikian, Suyadi belum merasa sepenuhnya aman dari ancaman serangan monyet. Kedatangan kawanan satwa tersebut sulit diprediksi dan biasanya berlangsung secara bergerombol sehingga berpotensi merusak tanaman pertanian.
Baca Juga: Ketika Desain Tak Sekadar Estetika, Mahasiswa ISI Jogja Suarakan Kritik Sosial di TBE Giwangan
“Saya pasang jaring-jaring setinggi 1,5 meter di lahan saya supaya tidak diserang, karena kan datangnya gerombolan,” ujarnya.
Pengalaman Suyadi menunjukkan bahwa berkurangnya kedatangan monyet di satu lahan belum cukup untuk memastikan gangguan serupa menurun di seluruh wilayah Gunungkidul. Petani masih membutuhkan langkah perlindungan yang efektif, terutama ketika program pemberian pakan tidak lagi berlanjut.
Selama 2026, DLH Gunungkidul mengalokasikan Rp 160 juta dari Danais untuk menyediakan pakan berupa singkong, pisang, dan pepaya. Namun, program yang berlangsung hingga Desember tersebut dipastikan tidak memperoleh alokasi anggaran serupa pada 2027. (zik/pra)
Editor : Heru Pratomo