Perwakilan Tim Penyusun Rencana Pembangunan Tol Cilacap-Jogja Ahmad Yani menyampaikan, hingga kini pembahasan rencana pembangunan tol sepanjang 121,75 kilometer tersebut masih terus bergulir. Salah satu objek pembahasan mengenai titik lokasi exit tol. “Kebumen kalau tidak salah ada dua (pintu tol). Di sekitar masuk Karanganyar sama Kebumen,” katanya, saat konsultasi publik, Senin (15/8).
Yani menerangkan, rencana pembangunan tol tersebut sudah memasuki tahap pra konstruksi. Tahapan ini akan dibagi dalam beberapa pelaksanaan kegiatan. Mulai pekerjaan desain, penetapan lokasi, pelelangan pengusahaan jalan tol hingga pengadaan tanah. Sedangkan tahap konstruksi rencananya berlangsung mulai Juli 2024. “Ya masih rencana. Kalau lokasinya secara umum bisa mendekati. Cuma tadi pengadaan tanah tetap proses. Nanti ada tim lain yang akan turun,” terangnya.
Ia menjelaskan, jalan tol ini akan berfungsi sebagai alternatif jalan arteri primer menghubungkan antar daerah dengan waktu tempuh lebih singkat. Keberadaan jalan bebas hambatan ini juga akan terkoneksi langsung dengan rencana ruas Tol Gedebage (Bandung)- Tasikmalaya- Cilacap dan ruas Tol Solo- Jogjakarta-Bandara YIA di Kulonprogo. “Lebih efisien dibandingkan ruas jalan eksisting antar kota dari Cilacap menuju Purworejo dan daerah sekitarnya,” ucapnya.
Jalan tol Cilacap- Jogjakarta akan melintasi 53 desa di 15 kecamatan, di Kebumen. Adapun panjang ruas jalan berkisar 121,75 kilometer, dengan lebar mencapai 80 meter. Dalam proyek ini pembebasan lahan diperkirakan mencapai 1.146,91 hektare. “Ini lebih panjang seperti jalan tol umumnya, kalau selama ini dibiayai BPJT kalau sekarang ini anggaran ditentukan dari hasil investor terpilih,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Grenggeng, Karanganyar, Ery Listyawan mengatakan, secara prinsip mendukung rencana pembangunan mega proyek tersebut. Menurutnya, rencana proyek nasional harus ditangkap sebagai peluang pengembangan roda ekonomi. Terlebih, akses sarana infrastruktur moda transportasi baik darat maupun udara kini saling terintegrasi. “Bagaimanapun ini rencana dan prioritas nasional. Tentu kami dukung dan diharapkan tumbuh ekonomi baru,” katanya.
Dilain sisi, kata Ery, jika nantinya Desa Grenggeng masuk dalam rencana realisasi jalan tol. Ia berharap pemerintah bisa lebih intens membangun komunikasi dengan masyarakat. Hal ini dinilai penting untuk memberikan penjelasan, agar tidak muncul kegaduhan di tengah masyarakat. “Pertanyaan warga tentu banyak. Pemerintah harus menyikapi dengan bijak dan jelas rencana mau seperti apa. Jangan kami yang menjadi kambing hitam,” ucapnya. (fid/pra)