Ia pun tak ingin area pedestrian Kebumen dibandingkan seperti halnya penataan ala Malioboro, Jogjakarta. Yang jelas, kata Arif, Pemkab hanya ingin menyodorkan konsep fasilitas umum yang representatif, sehingga bisa memberikan asas manfaat bagi masyarakat luas. "Sebenarnya konsep kami tidak meniru daerah manapun. Bagaimana Kebumen ini memiliki pedestrian cukup baik," kata Arif kepada Radar Kebumen, Selasa (1/11).
Arif menjelaskan, dalam dokumen perencanaan terdapat beberapa fasilitas yang bakal ditawarkan. Seperti penyediaan fasilitas ramah penyandang disabilitas, taman hijau hingga jalur khusus sepeda. Penyediaan fasilitas tersebut nantinya diharapkan bisa menjadi penunjang aksesibilitas setiap aktivitas masyarakat. "Difabel bisa hadir di sana, kemudian para pedagang tertata baik. Penataan trotoar semakin baik," sambung Arif.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pembangunan pedestrian tersebut bukan sekedar mengusung konsep penataan wajah kota. Tapi ada hal penting lain, yakni penanganan langganan banjir di sekitar lokasi ketika datang musim penghujan. "Kota belum memiliki sistem drainase. Tugu Lawet itu (sering) banjir jadi perlu pengentasan banjir," katanya.
Tak hanya itu, penataan wajah kota tersebut juga menjadi upaya pemkab dalam memberikan kemudahan kegiatan olahraga masyarakat khususnya ketika akhir pekan. Artinya lokasi olahraga yang selama ini berpusat di Alun-alun, nantinya bisa diperluas hingga sepanjang Jalan Soekarno-Hatta. "Sekarang dilihat jalan masih belum bagus ya, cuma nanti akan diperhalus. Masyarakat kalau ada car free day bisa semakin luas," ujarnya.
Dalam perjanjian kontrak, proses penataan koridor jalan kota tersebut ditarget rampung pada pertengahan Desember mendatang. Proyek ini merupakan program fisik berupa pemeliharaan secara berkala yang menelan anggaran APBD 2022 senilai Rp 10,9 miliar.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas PUPR Kebumen Joni Hernawan belum merespon saat ditanya progres capaian pembangunan pedestrian di Jalan Soekarno-Hatta tersebut. (fid/pra)