Plh Pimpinan Cabang Pegadaian Kebumen Bayu Sindu Hartono menyampaikan, tingkat transaksi masyarakat di kantor Pegadaian Kebumen mengalami pertumbuhan. Ini dimulai sejak sebelum hingga pascalebaran. "Pertengahan ramadan sampai seminggu setelah lebaran mulai tebusan, dengan asumsi masyarakat baru terima THR dan pedagang mulai menerima keuntungan," katanya, Kamis (4/5).
Bayi menyebut, sebelum lebaran masyarakat lebih cenderung menggadaikan barang. Fenomena ini terjadi setiap musim lebaran. Adapun barang yang digadaikan lebih didominasi perhiasan berupa emas, kemudian barang elektronik dan kendaraan bermotor. "Sembilan puluh persen barang gadai itu emas. Setiap kantor cabang (Pegadaian) pasti ada lonjakan gadai. Asumsinya rata-rata masyarakat pedagang buat mencukupi stok barang persiapan lebaran," ungkap Bayu.
Lebih lanjut, proses pencairan gadai dihitung berdasar jenis barang yang akan digadai. Penilaian untuk produk emas 80 persen dari nilai barang. Sedangkan khusus produk elektronik maupun kendaraan dihitung 30 persen dari harga bekas barang.
Bayu mengatakan, selama musim libur lebaran ada peningkatan transaksi hingga 20 persen jika dibanding hari normal. Dia menambahkan, layanan gadai masih menjadi pilihan alternatif masyarakat untuk berbagai kebutuhan, utamanya menambah modal usaha. Selain proses mudah dan cepat, barang yang digadaikan masih bisa ditebus untuk menjadi milik pribadi. "Kami lihat 90 persen gadai barang berupa emas. Kebanyakan yang datang buat modal sekitar. Angkanya variatif mulai Rp 5 juta – Rp 20 juta," terangnya.
Sementara itu, seorang warga Jamingatun, 31, mengatakan, gadai emas sudah menjadi kebiasaan atau tradisi keluarganya setiap lebaran. Ia mengaku memilih logam mulia sebagai barang gadai karena dinilai lebih aman dari sisi investasi. "Sudah masuk lima tahun ini gadai emas setiap mau lebaran. Habis lebaran ada uang dari anak-anak baru buat ngambil," ucapnya. (fid/pra)