Selama itu pula Marsiyo tak pernah merengek kepada siapapun dalam mencukupi kebutuhan para ODGJ. Baru belakangan ini saja pemerintah ikut cawe-cawe. Meski begitu, dia pun merasa tak terganggu. "Seadanya aja. Tidak buat surat terus minta bantuan. Kebetulan sawah punya, bisa buat makan. Sekarang kadang ada tambahan bantuan pemerintah sama orang datang," katanya, Rabu (31/5).
Baginya, ODGJ bukan sebuah aib. Mereka dianggap sedang menjalankan perintah tuhan. Sehingga tak ada sedikit pun rasa khawatir dan takut. Itulah modal Mbah Marsiyo bersinggungan langsung dengan penderita gangguan jiwa. "Yang menyembuhkan bukan saya, karena semua dari tuhan. Makanya saya beri nama Padepokan Walisiri. Rahasia tuhan," terangnya.
Mbah Marsiyo lahir dengan nama lengkap Mohammad Sarif Hidayat. Rumahnya di Desa Winong, Kecamatan Mirit hampir tak pernah sepi dari pasien. Ini sudah berlangsung sejak Marsiyo muda. Saking banyaknya ODGJ datang, Marsiyo bahkan merelakan sepetak tanah pekarangan miliknya sebagai shelter atau penampungan. "Adanya ya begitu. Setiap yang datang ke sini pasti saya minta persetujuan keluarga," lanjutnya.
Kemudian dia memutuskan mendirikan sebuah padepokan. Sebuah pedepokan yang menerapkan metode penyembuhan ODGJ secara tradisional. "Awalnya ya itu, ada yang datang. Lama kelamaan jadi banyak. Sampai terakhir kemarin di data ada 80 orang," ungkapnya.
Dalam keseharian, Marsiyo tampil seadanya. Dengan kaos oblong dan mengenakan sarung lusuh. Tak ketinggalan ikat kain warna hitam selalu melingkar di kepala. Itulah ciri khas Mbah Marsiyo.
Selama merawat ODGJ, Marsiyo banyak menemukan kisah. Sebab para ODGJ datang dari berbagai latar belakang. Saban hari ocehan dan amukan orang gangguan jiwa itu menjadi makanan wajib Mbah Marsiyo.
Anehnya, mereka akan patuh terhadap setiap ucapan yang terlontar dari mulut Mbah Marsiyo. Dari buah kesabaran itu, kini sudah banyak yang sembuh dari metode pengobatan yang dilakukan. "Ada dari Parakan, malah bunuh orang tua dan sempat di penjara. Akhirnya dibawa ke rumah sakit terus dibawa ke sini," terangnya. (pra)