Ditemu di sela kesibukannya, Khanif tidak merasa malu, meski dunia ternak sebagian orang menyebutnya identik dengan hal kotor. Bahkan sebagian menilai jauh dari ketidakpastian. Dia mengakui ada yang memandang sebelah mata. “Mungkin beranggapan tidak pegang gaji tetap. Tapi biarin aja. Namanya orang ngomong," ucapnya, Minggu (18/6).
Dia mengaku, banyak konsekuensi yang harus dihadapi ketika hidup dan menjalani usaha di desa. Mulai dari ancaman usaha gulung tikar, hingga menghadapi kondisi sosial masyarakat. Banyak cerita tidak enak. Dia sempat beternak ayam, tapi gagal. Coba lagi, gagal lagi. Sekarang beralih ke bebek. “Ternyata hasilnya lumayan," jelasnya.
Menurutnya, peluang usaha di desa sebenarnya terbuka lebar. Asalkan jeli dalam membidik peluang usaha yang akan diambil. Meski begitu, semua harus dijalani dengan penuh komitmen dan keberanian. Kuncinya telaten dan paham kondisi.” Sekarang punya modal setumpuk, tapi tidak telaten ya bangkrut," terang Khanif.
Khanif mengatakan, dia kini mulai menikmati hasil dari usaha ternak bebek yang dirintis sejak 2018 silam. Jumlah bebek yang diternak kini mencapai 600 ekor. Dia bercerita usaha ternak bebek petelur yang dijalani sarat perjuangan. "Modalnya itu berani spekulasi dulu. Terus sama berani memulai. Kalau cuma angan-angan ya tidak jalan," jelas Khanif.
Awal terjun ke bisnis itu, dia harus menanggung risiko banyak bebek yang mati. Belum lagi, ketika tiba musim panen, harga telur di pasaran cukup fluktuatif. Seiring berjalannya waktu, tantangan tersebut berhasil dia lewati. Sekarang lahan untuk membuat kandang ada, pakan mudah dicari. Kebutuhan telur meningkat. “Tinggal pintar olah peluang aja," sambungnya.
Jika dikalkulasi, dalam sehari Khanif mampu mengantongi Rp 600 ribu penghasilan bersih. Dipotong pakan dan ongkos perawatan masih utnung. Apalagi sekarang sudah ada pengepul yang siap menampung telur.(fid/din)