RADAR PURWOREJO - Jajaran Polres Kebumen berhasil menggagalkan aksi perang sarung antar kelompok remaja. Ada 11 pemuda yang berhasil diringkus petugas sebelum perang sarung dimulai pada Sabtu (16/3) jelang waktu sahur.
Kasi Humas Polres Kebumen AKP Heru Sanyoto, rencana perang sarung terdeteksi lebih awal berdasar laporan masyarakat. Atas laporan tersebut petugas kemudian melakukan reaksi cepat dengan upaya pembubaran masa.
"Saat tiba di lokasi, para pemuda itu tengah bergerombol di pinggir jalan," jelas AKP Heru, Minggu (17/3).
Sebelum petugas datang ke lokasi, ada sekitar 50 pemuda yang telah bersiap untuk melakukan aksi perang sarung. Mereka niatnya akan perang sarung pada pukul 01.30. Tepatnya di wilayah perbatasan antara Desa Tanuharjo, Kecamatan Alian dengan Desa Kalijirek, Kecamatan Kebumen.
Namun, ketika polisi tiba di lokasi sebagian besar dari dua kelompok tersebut kabur. Adapun 11 pemuda yang berhasil diamankan karena kedapatan memiliki barang bukti berupa sarung dengan ujung berisi pemberat.
"Senjata perang sarung ini akan sangat fatal jika mengenai kepala, bisa menyebabkan luka cukup serius bahkan kematian," ujarnya.
Kasat Reskrim Polres AKP La Ode Arwansyah menambahkan, 11 pemuda terpaksa digelandang ke Polres Kebumen untuk proses pendataan. Lalu, mereka dilakukan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatan serupa.
"Aksi perang sarung ini mengganggu ketertiban umum," jelasnya.
Dia mengatakan, fenomena perang sarung kerap muncul setiap Bulan Ramadan tiba. Aksi ini cukup meresahkan karena dinilai bukan lagi tergolonh kenakalan remaja biasa.
Pihaknya juga tidak akan memberikan toleransi atas segala bentuk aksi perang sarung yang berpotensi melanggar aturan pidana.
"Proses pidana siap menjerat bila para pelaku terbukti menyalahi pasal perundang-undangan, khususnya KUHP," ucapnya.
AKP La Ode menyebut, pada beberapa kasus perang sarung pelaku sengaja memasukkan batu, gir motor, besi maupun benda lain pada bagiaj ujung sarung dengan tujuan mencederai lawan.
Hal ini tentu cukup berbahaya dan tidak bisa dibiarkan. "Jangan sampai, anak kita menjadi korban karena lemahnya pengawasan," tandasnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo