Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Mengenal Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Kebumen yang Terus Edukasi Masyarakat agar Bangga Jadi Orang Jawa

Muhammad Hafied • Minggu, 19 Mei 2024 | 15:30 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Cabang Kebumen eksis memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang budaya Jawa.
NGURI-URI BUDAYA: Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Cabang Kebumen eksis memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang budaya Jawa.

 

 

RADAR PURWOREJO - Kehadiran Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Kebumen membawa ruh baru terhadap pelestarian adat dan budaya Jawa. Sampai detik ini, Pakasa tetap eksis memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kekayaan budaya Jawa. Langkah konkret ini terus dilakukan agar masyarakat tak canggung, bahkan malu sebagai orang Jawa.

Pakasa Kebumen terbentuk pada pertengahan 2020 silam. Saat ini lebih dari 50 warga Kebumen menjadi bagian di dalamnya. Termasuk Wakil Bupati Kebumen Ristawati Purwaningsih dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Saiful Hadi.

Pakasa Kebumen bermarkas di Desa Kuwayuhan, Kecamatan Pejagoan. Komunitas pegiat budaya ini juga selalu dilibatkan dalam prosesi jamasan pusaka bertepatan dengan Hari Jadi Kebumen. "Kami tidak ada batas usia. Tua muda boleh ikut. Justru yang muda harus lebih semangat. Biar tidak kepaten obor (kehilangan jejak sejarah)," kata Ketua Pakasa Kebumen KRAP Arif Priyantoro Reksoningrat Jumat (17/5).

Sejauh ini, berbagai kegiatan menyangkut pelestarian adat dan tradisi Jawa telah dilakukan. Antara lain dengan menggelar seminar, memenuhi undangan podcast, hingga pameran tosan aji. Selain itu mereka juga aktif menelusuri situs sejarah dan jejak peninggalan para empu di Kebumen. "Sebagai bentuk tanggungjawab saja. Budaya ini kan jati diri bangsa. Anak muda harus punya kepekaan itu," ujarnya.

Menurut KRAP Arif, budaya Jawa tanpa sadar kini hilang secara perlahan seiring perkembangan teknologi serta derasnya pengaruh budaya barat. Kondisi ini membawa keprihatinan tersendiri bagi keluarga besar Pakasa Kebumen. "Bukan apa-apa, kalau peninggalan nenek moyang hilang siapa yang bertanggungjawab," sambungnya.

KRAP Arif menyebut, rentetan sejarah antara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan tokoh Kebumen mendasari terbentuknya Pakasa Cabang Kebumen. Dari kedekatan sejarah ini bupati dan wakil bupati Kebumen lantas diberi gelar penghargaan dari lembaga dewan adat (LDA) Keraton Surakarta.

Pemberian kekancingan atau gelar adat tersebut sebagai bentuk kepercayaan Keraton Surakarta untuk setia menjaga kelestarian budaya Jawa. "Gusti Moeng, adik sinuhun Sri Sultan Pakubuwono XIII sempat ke Kebumen. Sekalian menyerahkan gelar dari keraton untuk tokoh di Kebumen," jelasnya.

Dia bercerita, Kebumen tidak lepas dari sosok KRT Aroengbinang I yang menurunkan Aroengbiang IV sebagai bupati Kebumen pertama. KRT Aroengbinang I alias Kiai Hanggawangsa cukuo masyhur di lingkungan Keraton Surakarta. KRT Aroengbinang I ini dikenal sebagai tokoh penting yang ikut menentukan titik letak pembangunan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Seraya mengutip buku berjudul Life in the Javanese Keraton karya Aart van Beek, Arif menjelaskan bahwa Pakubuwono II sempat membentuk tim khusus untuk menentukan titik lokasi Keraton Surakarta Hadiningrat. Termasuk didalam tim itu ada peran dari KRT Aroengbinang I. Akhirnya ditentukanlah lokasi Keraton Kasunanan Surakarta di tempat sekarang. "Rentetan sejarah sulit dilepaskan, dan kami bangga punya tokoh strategis di Keraton Surakarta," tandasnya. (fid/eno)

Editor : Sevtia Eka Nova
#Pakasa Kebumen #Paguyuban Kawula Keraton Surakarta