RADAR PURWOREJO - Daya beli masyarakat terhadap hewan kurban masih rendah memasuki tiga pekan menjelang Hari Raya Idul Adha 2024. Sejumlah penjual hewan mengaku belum ada lonjakan signifikan perihal permintaan hewan kurban.
Pantauan di Pasar Hewan Argopeni, Kebumen, aktivitas jual beli hewan tampak berjalan seperti biasa, kemarin (26/5). Tak ada tanda-tanda penjualan atau transaksi hewan ternak yang begitu masif. Sejumlah penjual hewan mengaku hanya bisa bersabar sembari menanti calon pembeli yang datang. " Lebih banyak yang jualan ketimbang yang mau beli," kata penjual hewan ternak, Suraji.
Idealnya, tiga pekan mendekati Idul Adha sudah banyak masyarakat yang pesan hewan untuk kurban. Hal ini guna mengantisipasi lonjakan harga jika membeli mepet Idul Adha. Sebab, mau beli H-7 itu sudah beda harga. “Sekarang satu-dua yang pesan, tapi belum ramai," ungkapnya.
Salah satu juragan sapi Anifudin menambahkan, belum ada peningkatan permintaan maupun kenaikan harga meski sudah mendekati Idul Adha. Hiruk pikuk di pasar hewan menurutnya juga belum menunjukkan tingginya animo masyarakat untuk berburu hewan kurban. "Masih biasa saja. Pesanan buat kurban sudah ada, tapi belum ramai," ujar Anifudin.
Dia memprediksi, lonjakan permintaan hewan kurban akan terjadi sepekan sebelum Idul Adha. Namun begitu, dia menilai jumlah permintaan hewan kurban tahun ini tak sebanyak tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi ini dipicu melemahnya faktor ekonomi, sehingga daya beli masyarakat terhadap hewan kurban tak ada kenaikan signifikan. "Bisa dibilang masih paceklik ya. Tahun kemarin saya setor sapi bisa 100 ekor, sekarang paling 50 ekor," ucapnya.
Anifudin menyebut, harga hewan kurban sampai saat ini cenderung stabil. Rata-rata satu ekor sapi masih dijual dengan harga Rp 20 Juta sampai Rp 25 Juta tergantung usia dan bobot sapi. Adapun sapi paling diminati untuk kebutuhan hewan kurban adalah jenis sapi Peranakan Ongole alias PO. Sapi putih ini banyak dipilih masyarakat karena dari segi harga jauh lebih terjangkau. "Kalau saya setiap hari ada sapi. Tapi ya itu, pembeli pilih harga paling masuk. Kebanyakan sapi PO," jelasnya. (fid/din)
Editor : Satria Pradika