RADAR PURWOREJO - Pedagang maupun pengunjung Pasar Tumenggungan, Kebumen mengeluhkan buruknya fasilitas pasar. Di antaranya tangga berjalan atau eskalator yang telah lama tak beroperasi. Mereka cukup menyayangkan keberadaan eskalator sebagai fasilitas sekaligus daya tarik pasar justru tak berfungsi optimal.
Pedagang Lantai 2 Pasar Tumenggungan, Fathurohman mengatakan, dirinya tak mengetahui persis penyebab matinya eskalator pasar. Dia hanya mengamati eksalator tersebut beroperasi normal hanya tiga tahun pascaperesmian pasar. "Sudah lama banget mati. Tidak tahu itu rusak atau bagaimana, saya kurang begitu paham," ungkapnya, Senin (8/7).
Fathurohman berharap, matinya eskalator di Pasar Tumenggungan segera mendapat perhatian. Menurutnya, eskalator merupakan fasilitas penting terutama bagi para penyandang disabilitas, lansia maupun ibu hamil. Tak hanya itu, keberadaan tangga jalan juga akan memberikan nilai lebih terhadap pasar tradisional. "Kalau bisa ya nyala. Biar yang datang itu nyaman. Tidak kapok ke pasar," bebernya.
Empat eskalator di Pasar Tumenggungan terpantau mati total. Titik tangga jalan ini berada di utara dan selatan bangunan pasar. Selain mati, kondisi eskalator juga tampak kurang begitu terawat. Bagian lantai dan kaca pembatas terlihat cukup kotor.
Salah satu pengunjung pasar Nur Isyah mengatakan, eskalator di Pasar Tumengunggan kini menjadi aset milik pemkab yang terbengkelai. Sebab, selama ia datang untuk berbelanja tak pernah menikmati fasilitas eskalator. "Saya sering belanja, tapi ya itu pasti eskalator mati. Padahal penting ya. Apalagi pas lagi ramai lebaran atau liburan," ungkapnya.
Warga Desa Kebagoran ini menganggap keberadaan eskalator di pasar cukup penting. Terlebih seperti sekarang yang bertepatan dengan libur panjang sekolah. Otomatis banyak pengunjung lalu lalang untuk mencari kebutuhan. "Biar ada kemajuan pasar, harusnya eskalator jalan. Percuma dong, kalau ada alatnya tapi tidak berfungsi," jelasnya.
Kepala UPT Pasar Tumenggungan Mulyadi mengatakan, empat eskalator di bagian tengah pasar memang lama tak beroperasi optimal. Atas kondisi ini pihaknya mengaku kerap mendapat keluhan dari pengunjung maupun pedagang. "Setelah dibangun 2013 memang sempat jalan. Terus tidak aktif lagi," bebernya.
Mulyadi menjelaskan, ada beberapa pertimbangan eskalator tak beroperasi. Antara lain, kebutuhan biaya listrik cukup mahal sehingga hanya dioperasikan pada momentum tertentu.
Kemudian, dari empat eskalator tersebut perlu mendapat perbaikan dan perawatan. "Dari sisi penggunaan, memang eman-eman kalau tidak dipakai. Tapi memang perlu ada perbaikan dan kami disini tidak punya teknisi. Bayar listriknya itu juga mahal banget," tuturnya. (fid/pra)
Editor : Satria Pradika