KEBUMEN - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menggelar apel siaga 1.001 potensi SAR di Lapangan Secata Gombong, Senin (16/12). Apel siaga sengaja digelar sebagai bentuk kesiapan penuh dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi akibat perubahan cuaca ekstrem.
Apel diikuti petugas SAR dari berbagai kabupaten di Jawa Tengah dan Jogja.Dalam apel gelar pasukan tersebut juga dilakukan simulasi penanganan saat dan pasca bencana. Simulasi berlangsung dengan melibatkan berbagai potensi SAR serta unsur masyarakat. "Pelatihan dan apel ini adalah aset dari pemerintah daerah setempat. Begitu ada kejadian, mereka yang akan bergerak pertama," beber jelas Kepala Basarnas Marsdya TNI Kusworo.
Baca Juga: Usung Kualitas Terbaik, AHM Umumkan Harga Honda ICON e: dan Honda CUV e:
Dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, Basarnas per hari ini telah mengaktifkan sedikitnya 300 posko siaga SAR. Selain itu, Basarnas juga menyiagakan 2.500 personel dan sekitar 17 ribu relawan terlatih yang tersebar di wilayah zona rawan bencana. "Kami melihat secara keseluruhan hari ini yang datang ternyata ada 1.500 personel. Mereka binaan kami dan sudah terlatih," ungkapnya.
Kusworo mengatakan, sebagai upaya mitigasi Basarnas juga menggandeng instansi terkait antara lain BMKG dan BNPB, termasuk pemerintah di berbagai tingkatan. Lalu membuka layanan darurat yang beroperasi 24 non stop untuk penanganan cepat laporan bencana. Dari upaya tersebut diharapkan menjadi langkah mitigasi yang dapat mengurangi dampak bencana.
"Kami selalu monitor perubahan cuaca, BMKG itu per jam per daerah. Memang saat ini yang paling rawan bencana hidrometerologi. Banjir, tanah longsor dan angin kencang," jelasnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kebumen Udy Cahyono mengatakan, berbagai antisipasi dini terus dilakukan guna menghadapi potensi ancaman bencana hidrometerologi. Dia bersyukur mayoritas desa di Kebumen kini telah terbentuk lembaga vertikal Desa Tanggap Bencana alias Destana.
Keberadaan Destana ini akan memberikan efek positif, khususnya terkait mitigasi dan penanganan ketika terjadi bencana di desa setempat. "Relawan di tingkat desa ini kami lihat sudah pro aktif. Sudah dilatih dan setiap ada kejadian, mereka yang buat. Kami tentu terbantu," ucapnya.
Udy menyebut, memasuki akhir tahun ini cukup banyak laporan bencana akibat cuaca ekstrem. Meliputi bencana banjir, tangil jebol, tanah longsor hingga angin kencang. Penanganan darurat dari laporan tersebut juga telah ditindaklanjuti dengan priorotas utama keselamatan masyarakat. "Kami upayakan penanganan bencana secara cepat dan tepat, sehingga kerugian dapat diminamilisasi," terangnya. (fid)
Editor : Heru Pratomo