KEBUMEN - Para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Rowo, Kecamatan Mirit menggelar tradisi sedekah laut, Selasa (22/7). Dalam tradisi ini nelayan melarung sedikitnya 60 sesaji ke pantai selatan. Satu di antara sesaji yang disiapkan berisi kepala kambing kendit.
Kepala Desa Rowo Samsino mengatakan, tradisi larungan sesaji adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir. Aktivitas ini merupakan ekspresi rasa syukur atas hasil tangkapan laut yang diperoleh nelayan selama setahun terakhir.
Sesaji juga ditujukkan sebagai bentuk penghormatan terhadap laut sebagai sumber penghidupan nelayan. "Sudah dari dulu, tinggalan nenek moyang. Kami meneruskan saja," ungkapnya.
Kepada Radar Jogja, Samsino menerangkan tradisi sedekah laut menjadi agenda rutin tahunan warga Desa Rowo. Tradisi ini digelar setiap datang Bulan Sura, tepatnya pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Dua hari tersebut dipilih untuk larungan sesaji karena dianggap cukup sakral.
"Tahun sebelumnya itu hari Jumat. Sekarang hitungan aboge jatuhnya pas Selasa. Dari Pemdes juga manut sesepuh," jelas Samsino.
Dia menjelaskan, ada satu sesaji yang buat khusus untuk sedekah laut. Yakni berupa potongan kepala kambing Kendit Pancal Panggung. Kambing jenis ini terbilang sulit dicari karena pada bagian perut dan kaki terdapat warna putih melingkar seperti cincin.
Untuk keperluan ritual, pihak pemerintah desa jauh hari telah meminta bakul ternak untuk mencari kambing kendit sesuai kebutuhan. Selain kambing, ada 60 macam sesaji yang ikut dilarung.
Seperti aneka buah, jajanan pasar, kembang setaman, tumpeng dan hasil bumi. "Kami cari kambing sampai luar desa. Itu pun harus pesan dulu karena jenisnya susah dicari," ujar Samsino.
Sementara itu, Ketua Rukun Nelayan TPI Rowo Saryanto menyatakan, tradisi larungan tidak hanya memiliki makna spiritual dan budaya, tetapi juga simbol kebersamaan serta harapan agar tangkapan laut melimpah di kemudian hari.
Baca Juga: Honda Srawung Spot Meriahkan Semesta Berpesta Yogyakarta 2025
Dia menyebut, ada sekitar 184 nelayan di Desa Rowo yang menggantungkan hidup dari hasil laut. Mereka merupakan para nelayan tradisional yang telah berpengalaman menerjang ombak lautan.
"Setiap tahun kumpul untuk syukuran bersama. Sedekah ini cara kami tidak melupakan alam dan seisinya," ujarnya. (fid)
Editor : Heru Pratomo