KEBUMEN - Jumlah kendaraan baru di Kebumen mengalami tren penurunan. Tercatat, sepanjang periode 2025 ada 20.129 unit kendaaan baru, baik roda dua maupun roda empat yang telah terdaftar.
Jumlah ini turun dari tahun sebelumnya dengan total kendaraan mencapai 21.175 unit. Penjualan kendaraan listrik disinyalir jadi salah satu alasannya.
Kepala Unit Pelayanan Pendapatan Daerah (UPPD) Samsat Kebumen Budi Praseyo mengaku tidak mengetahui pasti faktor utama terjadinya penurunan jumlah kendaraan baru.
Dia hanya menegaskan meski dari segi kuantitas turun, total jumlah pembelian kendaraan baru di Kebumen masih tergolong tinggi di wilayah Jawa Tengah.
"Mungkin masih banyak yang memanfaatkan kendaraan lama. Sebenarnya jumlah itu luar biasa. Di atas 1.500 unit setiap bulan," jelasnya, kepada Radar Jogja, Kamis (15/1).
Berdasar data akumulasi Samsat Kebumen, selama kurun waktu 2025 jumlah obyek kendaraan baru mengalami penurunan. Khusus kendaraan roda dua turun 3,71 persen, dari 2024 sebanyak 20.394 unit menjadi 19.637 unit.
Sedangkan kendaraan roda empat turun cukup derastis, mencapai 37 persen. Semula 781 unit menjadi 492 unit.
Budi mengatakan, penurunan jumlah kendaraan baru otomatis berdampak pada sektor pendapatan daerah. Disebutkan, tantangan berikutnya Samsat juga dihadapkan maraknya kendaraan listrik.
Padahal menurutnya banyaknya kendaraan listrik tidak begitu menguntungkan dari sisi pendapatan daerah.
"Sampai sekarang dari pusat kami tidak diperkenankan narik pajak kendaraan listrik. Regulasinya belum memungkinkan," kata dia.
Budi memprediksi, penurunan angka pembelian kendaraan baru yang sifatnya konvensional bisa dipengaruhi hadirnya kendaraan model listrik. Hal ini terlihat tidak sedikit masyarakat sekarang mulai beralih ke kendaraan berbasis listrik.
"Contoh saja, yang sekolah dan kuliah awalnya pakai motor, sekarang ke sepeda listrik. Itu pengaruh lho," ucapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kebumen Dirgo Yuswo menyatakan, tren penurunan kendaraan baru tidak bisa disimpulkan karena daya beli masyarakat yang menurun.
Lebih luas lagi dia juga tak sepakat kurangnya minat masyarakat beli kendaraan baru akibat pengaruh stabilitas ekonomi. "Bisa dirunut, kok pembelian kendaraan sepi karena daya beli turun, itu tidak bisa jadi pijakan mutlak," katanya.
Jusru, Dirgo menyoroti berkurangnya jumlah pembelian kendaraan baru, terutama kendaraan roda dua salah satunya dipicu munculnya kendaraan listrik. Masyarakat, kata dia, memilih kendaraan listrik karena praktis dan tidak timbul biaya lebih.
"Kenapa ke kendaraan listrik. Masyarakat itu menghitung. Buat biaya dan lain-lain, sekarang yang listrik malah ada subsidi," ujarnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo