Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kepala Desa di Kebumen Ikut kelimpungan Urus SPMB, Banyak Keluhan dari Warga karena Aturan Desil

Muhammad Hafied • Rabu, 1 Juli 2026 | 20:55 WIB
Foto: Pengurus Paguyuban Kepala Desa Reksa Praja Sutarjo. (M Hafied/Radar Jogja)
Foto: Pengurus Paguyuban Kepala Desa Reksa Praja Sutarjo. (M Hafied/Radar Jogja)

KEBUMEN - Kepala desa di Kebumen ikut kelimpungan menghadapi pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Mereka sempat menerima banyak keluhan karena warganya kesulitan masuk sekolah negeri terdekat buntut dari penerapan sistem desil dalam jalur tertentu.

Pengurus Paguyuban Kepala Desa Reksa Praja Sutarjo mengaku, belum lama mendapat laporan dari warga yang kesulitan mengakses pendidikan di sekolah terdekat karena terbentur aturan desil.

Kebijakan penggunaan desil atau tingkat kesejahteraan dalam SPMB dinilai cukup merepotkan. Mekanisme tersebut menurutnya menutup kesempatan bagi warganya untuk sekolah terdekat hanya karena tidak memenuhi syarat kriteria desil.

Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Sukses Gelar "Astra Motor Menyapa Desa Wisata Krebet"

"Masyarakat ikut resah. Harusnya bisa sekolah dekat rumah, tapi karena desil tidak sesuai jadi sulit masuk. Kuota jalur penerimaan juga sedikit," ungkapnya kepada Radar Jogja, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, SPMB tahun ini cukup problematik karena ada batasan desil dalam pelaksanaannya.

Di satu sisi pemerintah desa memiliki kewenangan terbatas. Dia tidak bisa berbuat banyak karena seluruh mekanisme penerimaan murid baru telah diatur melalui ketentuan berlaku. 

"Endingnya nanti mencari sekolah jauh dari sekolah," beber Kades Seling, Kecamatan Karangsambung itu.

Baca Juga: PCX Bikers Playland Astra Motor Yogyakarta, Honda Istimewa Ajak Quality Time Ayah dan Anak di "PCX Bikers Playland"

Sutarjo menyatakan, banyak konsekuensi yang harus diterima jika warganya harus menempuh pendidikan jauh dari rumah. Otomatis biaya pengeluaran orang tua membengkak karena harus memikirkan tambahan biaya transportasi.

Dia menyatakan pemberlakuan kebijakan desil dalam SPMB akan menjadi beban ekonomi bagi masyarakat. 

"Kalau sekolah jauh, buat operasional pasti tambah. Padahal, warga saya masih menerima bantuan sosial. Desil 1 sampai 5 itu kan masih kategori miskin," ucapnya.

Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, WHO Catat Lebih dari 1.300 Korban Jiwa

Sutarjo menyatakan, orang tua merasa kesempatan anak mereka untuk diterima di sekolah tujuan menjadi terbatas akibat penerapan sistem mengacu pada desil.

Kondisi ini menurutnya perlu menjadi bahan perhatian bersama agar memberikan peluang bagi murid untuk mengakses pendidikan terdekat. 

Dia pun meminta sosialisasi terkait SPMB diperkuat agar masyarakat paham dasar penetapan maupun mekanisme seleksi penerimaan murid baru.

"Menurut saya sistem yang baru ini ada celah yang perlu diperbaiki," katanya. (fid)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Keluhan warga #desil bansos #kebumen #spmb #Kepala desa