YOGYAKARTA - Serangan heat stroke pada anak akibat paparan cuaca panas ekstrem belakangan ini menuntut respons cepat dan tepat dari orang tua. Sayangnya, di lapangan masih banyak masyarakat yang keliru menyamakan kondisi fatal ini dengan demam biasa.
Dosen PPDS Kedokteran Keluarga Layanan Primer UMY, dr. Siti Rizki Fauziah, M.Med.Sc., Sp.KKLP., mengingatkan bahwa salah kaprah penanganan heat stroke justru bisa memperburuk kondisi fisik anak hingga memicu komplikasi medis yang serius. Berbeda dengan demam karena infeksi bakteri atau virus, prioritas utama menghadapi heat stroke adalah menurunkan suhu tubuh sedini mungkin secara eksternal.
Dokter Siti menjelaskan, jika anak mulai berkeringat deras, tampak kepanasan, atau mengeluh tidak nyaman, ia harus segera dievakuasi ke area yang teduh atau ruangan ber-AC untuk beristirahat dan minum.
Baca Juga: Bukan Sekadar Sunah Biasa, Ini Bobot Pahala dan Konsekuensi Dosa di Bulan-Bulan Haram
Namun, jika anak sudah menunjukkan fase gawat darurat seperti suhu tubuh melonjak ekstrem, linglung, hingga penurunan kesadaran, orang tua harus segera membawanya ke fasilitas kesehatan (faskes). Sambil menunggu penanganan medis, lakukan langkah penanganan awal berikut:
- Evakuasi Cepat: Pindahkan anak ke tempat yang teduh, sejuk, dan memiliki sirkulasi udara baik.
- Longgarkan Pakaian: Lepaskan pakaian yang berlapis, tebal, atau terlalu ketat.
- Metode Sponging: Basahi seluruh tubuh anak menggunakan kain atau spons yang direndam air biasa atau air sejuk (bukan air es), lalu bantu penguapan dengan kipas angin.
- Kompres Area Kunci: Tempelkan kompres basah pada titik pembuluh darah besar, yaitu leher, ketiak, dan selangkangan untuk mempercepat pelepasan panas.
Wajib Dihindari: 3 Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan Orang Tua
Baca Juga: Hilang saat Berburu Biawak, Pelajar asal Solo Ditemukan Linglung di Jaten Karanganyar
1. Memberikan Obat Penurun Panas (Parasetamol/Ibuprofen)
Ini adalah kekeliruan yang paling jamak terjadi. Obat seperti parasetamol tidak akan bekerja menurunkan suhu tubuh akibat heat stroke. Sebaliknya, saat tubuh anak dehidrasi dan organ sedang stres berat karena panas, zat obat justru akan menambah beban kerja hati serta ginjal secara berbahaya.
2. Memaksa Anak Minum saat Kesadaran Menurun
Jangan sekali-kali mencekoki anak dengan air jika mereka sudah tampak mengantuk berat, bingung, atau pingsan. Pada kondisi ini, refleks menelan anak sudah tidak berfungsi optimal, sehingga memaksa cairan masuk berisiko tinggi menyebabkan anak tersedak dan air masuk ke saluran pernapasan.
Baca Juga: Hilang saat Berburu Biawak, Pelajar asal Solo Ditemukan Linglung di Jaten Karanganyar
3. Mengguyur dengan Air Es atau Mengusap Alkohol
Menempelkan es batu secara langsung atau menyeka tubuh dengan alkohol sangat tidak disarankan karena bisa memicu penyempitan pembuluh darah mendadak (vasokonstriksi) yang justru memerangkap panas di dalam tubuh. Gunakan selalu air bersih dengan suhu normal atau sejuk.
Hidrasi Terbaik
Baca Juga: PMII Tuding Keluarga Bupati Kebumen Ikut Kelola Dapur MBG, Wabup Sebut karena Minimnya Pemodal
Untuk mencegah dehidrasi selama cuaca ekstrem, dr. Siti menyarankan orang tua untuk memastikan anak-anak mendapat asupan air putih yang cukup atau larutan elektrolit, bukan minuman manis kemasan.
"Kuncinya adalah kepekaan orang tua dalam mengenali gejala awal dan tidak menyepelekan keluhan anak saat cuaca menyengat. Semakin cepat ditangani dengan metode pendinginan yang benar, anak akan terhindar dari risiko kerusakan organ," pungkasnya.
Editor : Heru Pratomo