JAKARTA – Data WHO’s Oral Health Country Profile 2022 yang dilansir Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan RI mencatat realitas yang mencengangkan: pengeluaran masyarakat Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi adalah yang tertinggi kedua di Asia Tenggara.
Dengan rata-rata pengeluaran mencapai US$ 1.160, Indonesia hanya berada di bawah Singapura. Angka ini menjadi alarm keras bahwa kelalaian dalam perawatan preventif sehari-hari sering kali berujung pada tindakan kuratif yang menguras kantong.
Di tengah tekanan finansial tersebut, muncul tren global baru yang mulai menggeser paradigma perawatan gigi di Indonesia, yakni Skinification. Tren ini lahir dari tingginya literasi konsumen terhadap kandungan produk. Jika sebelumnya konsumen sangat kritis terhadap bahan aktif skincare seperti ceramide atau serum, kini standar yang sama diterapkan pada perawatan mulut (oral care).
Baca Juga: Warga Sleman Buat Upal Bermodalkan Printer dan Kertas Buram, Sasar Toko Perkampungan
Konsumen modern mulai menyadari bahwa rongga mulut dan pelindung gigi sama berharganya dengan skin barrier. Perawatan gigi tidak lagi dipandang sekadar aktivitas membersihkan sisa makanan dengan pasta gigi konvensional, melainkan sebuah ritual kecantikan yang menuntut nutrisi, perbaikan, dan perlindungan dari bahan aktif yang teruji secara medis.
Potensi pasar ini tecermin dari data Markethac (Maret–Juni 2026), di mana penjualan pasta gigi sensitif menembus angka 339,3 ribu produk. Social commerce menjadi motor penggerak utama, dengan TikTok Shop x Tokopedia mendominasi pangsa pasar sebesar 58,2%, disusul Shopee dengan 41%. Saluran ini terbukti efektif tidak hanya untuk berjualan, tetapi juga sebagai ruang edukasi mengenai manfaat bahan aktif dalam produk.
Pentingnya Edukasi Preventif Praktisi kesehatan gigi yang populer di TikTok, drg. Zahrah Almira Cita Utami (dikenal sebagai akun 'Malaikat Pencabut Gigi'), menekankan bahwa kesadaran akan bahan aktif harus dibarengi dengan perubahan gaya hidup.
Baca Juga: Pasar Klewer Sepi Bikin SDN Kauman Solo Dua Tahun Ini Krisis Murid
"Banyak pasien mengeluh belum ada perubahan meski sudah menggunakan pasta gigi pencerah. Kenyataannya, jika kebiasaan merokok, minum kopi, dan konsumsi makanan berwarna pekat terus dilakukan, noda (stain) akan tetap menempel kuat," jelas drg. Zahrah.
Ia menyarankan langkah mitigasi sederhana bagi masyarakat. "Jika kebiasaan tersebut sulit dihilangkan, pastikan untuk selalu berkumur dengan air mineral setelahnya. Jika mengonsumsi minuman berwarna, gunakan sedotan untuk meminimalisir kontak langsung dengan permukaan gigi," sarannya.
Menjadi Konsumen Kritis Terkait pemilihan produk, drg. Zahrah mengingatkan konsumen agar tidak tertipu oleh pasta gigi yang hanya menawarkan busa melimpah tanpa efektivitas nyata.
Baca Juga: Sudah Kali Ketiga Ditemukan Belatung pada Menu MBG di PAUD/KB Kids Fun Education Boyolali
"Pastikan produk memiliki uji laboratorium. Jangan hanya memilih yang busanya banyak tapi tidak mampu mengangkat noda. Apabila perawatan mandiri yang rutin belum menyelesaikan masalah, langkah selanjutnya adalah berkonsultasi dengan dokter gigi untuk penanganan profesional," tambahnya.
Pergeseran standar perawatan menuju Skinification ini pada akhirnya menuntut inovasi nyata pada formulasi pasta gigi. Jika produk konvensional kerap mengandalkan butiran abrasif kasar yang berisiko menggores enamel, pendekatan modern kini beralih ke sistem enzimatik yang jauh lebih lembut namun tetap efektif dalam menjaga kesehatan dan estetika gigi.
Editor : Heru Pratomo