Belajar dari Bogor Atasi TBC Lintas Wilayah: Kelurahan Siaga Siap Jemput Bola Pasien Berisiko

Heru Pratomo • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 21:21 WIB
PEMERIKSAAN: Lansia di Kalurahan Sentolo menerima tes kesehatan untuk kasus TBC.
PEMERIKSAAN: Lansia di Kalurahan Sentolo menerima tes kesehatan untuk kasus TBC.

 

 

Daerah lain di Indonesia tampaknya perlu belajar dari Kota Bogor dalam upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI resmi mengusulkan Kota Bogor sebagai daerah percontohan nasional setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sukses membentuk Kelurahan Siaga TBC secara serentak di seluruh 68 kelurahan di wilayahnya.

Apresiasi tinggi disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus, saat meluncurkan program Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding) TBC yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) SMART di Kota Bogor, Selasa (28/7/2026).

“Saya mendengar seluruh kelurahan di Kota Bogor sudah menjadi Kelurahan Siaga TBC. Ini luar biasa dan jarang ada. Karena itu, saya ingin Kota Bogor dapat menjadi percontohan nasional,” ujar Wamenkes Benjamin.

Baca Juga: Sampah Menumpuk di TPS3R gegara Dilarang Masuk TPA Banyuroto, DLH Kulon Progo Tak Beri Solusi

Menurutnya, daerah lain harus meniru strategi proaktif Pemkot Bogor. Pengendalian TBC tidak bisa lagi hanya mengandalkan pasien yang datang ke fasilitas kesehatan, melainkan harus lewat aksi "jemput bola" bersama puskesmas, aparat wilayah, hingga kader masyarakat untuk menjangkau warga berisiko, terutama kontak erat pasien positif.

Melalui integrasi program CKG SMART, warga Kota Bogor dapat menjalani skrining kesehatan, rontgen dada (X-ray), hingga tes dahak dekat dari pemukiman mereka. Bagi warga berisiko tinggi yang belum sakit TBC aktif, Kemenkes juga memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

“Selama ini kita fokus mengobati yang sudah sakit, tapi kontak eratnya jarang diperiksa. Daripada dua-tiga tahun lagi mereka jadi pasien TBC, lebih baik cegah dari sekarang lewat TPT,” tegas Benjamin.

Baca Juga: Videotron Pemkab Melawi Tampilkan Tayangan Tak Senonoh, Dugaan Peretasan Jadi Sorotan

Langkah pembentukan Kelurahan Siaga TBC ini dinilai sangat krusial mengingat Kota Bogor menghadapi tantangan kepadatan penduduk dan beban kasus yang tinggi. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena, mencatat pada 2025 Kota Bogor menempati peringkat kelima beban TBC tertinggi di Jawa Barat dengan 10.577 kasus.

Selain itu, Kota Bogor juga menjadi rujukan lintas daerah. Dari total pasien yang dirawat, hanya 62 persen warga asli Kota Bogor, sementara 35 persen berasal dari Kabupaten Bogor dan 3 persen dari wilayah luar lainnya.

Baca Juga: Saparan Mantran Wetan Jadi Tradisi yang Lebih Meriah daripada Lebaran, Per KK Bisa Keluarkan Rp 7 Juta untuk Sukseskan Acara

Guna mempertahankan efektivitas Kelurahan Siaga TBC ini, Pemkot Bogor menargetkan pelacakan (tracing) terintegrasi mulai Agustus hingga November 2026. Program ini akan menyasar 23.200 orang di 232 titik lokasi pada 68 kelurahan.

Hingga 26 Juli 2026, capaian penemuan kasus TBC di Kota Bogor sudah menyentuh 71,9 persen dari target 90 persen. Inovasi serta keseriusan Kota Bogor ini diharapkan dapat menjadi contoh nasional guna menurunkan kurva kasus TBC secara signifikan pada 2028–2029 mendatang.

Editor : Heru Pratomo
Tracing smart agro Wamenkes bogor tbc