Fenomena menyusutnya debit air hingga dasar sungai mengering membuat jutaan ekor ikan sapu-sapu terdampar di Sungai Juwana, Desa Bungasrejo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Kondisi ini dimanfaatkan warga setempat untuk mengumpulkan ikan tersebut dan menjualnya sebagai bahan baku pakan lele seharga Rp2.000 hingga Rp2.500 per kilogram.
Meskipun menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga dan solusi pakan ternak, muncul kekhawatiran jika ikan tersebut dimanfaatkan untuk konsumsi manusia.
Tekstur dagingnya yang tebal serta harganya yang murah sering kali dilirik sebagai bahan olahan makanan. Namun, para ahli kesehatan dan lingkungan berulang kali menegaskan bahaya fatal di balik mengonsumsi jenis ikan ini.
Ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif dengan daya tahan tubuh sangat kuat di perairan tercemar. Ikan ini bertahan hidup dengan mengonsumsi endapan lumpur serta limbah di dasar sungai.
Baca Juga: Sindhu Laras Bocah, Cara Anak Muda Merawat Warisan Seni Jawa
Sifat biologis tersebut menjadikan organ dan daging ikan sapu-sapu bagaikan spons yang menyerap berbagai kandungan logam berat berbahaya, seperti timbal, kadmium, dan merkuri.
Penumpukan zat beracun ini di dalam tubuh manusia membawa dampak kesehatan yang sangat serius. Paparan timbal dapat merusak sistem saraf serta mengganggu pembentukan sel darah. Sementara itu, kandungan kadmium berisiko tinggi merusak fungsi ginjal dan kerapatan tulang.
Adapun merkuri menjadi zat paling berbahaya yang dapat memicu kerusakan otak, gangguan saraf motorik, hingga meningkatkan risiko kanker.
Langkah warga Desa Bungasrejo yang menyalurkan hasil panen ikan sapu-sapu khusus untuk olahan pakan ikan lele merupakan tindakan yang sangat tepat.
Pemanfaatan ini menjadi solusi aman dalam mengolah potensi limbah sungai tanpa harus membahayakan kesehatan masyarakat secara langsung, sekaligus mencegah timbulnya bau busuk dari bangkai ikan di dasar sungai yang mengering.
Editor : Bahana.