RADAR PURWOREJO - Wedang uwuh adalah minuman tradisional khas Yogyakarta yang pertama kali dikenal di daerah Imogiri, Kabupaten Bantul.
Minuman ini terkenal dengan cita rasanya yang khas karena kaya akan campuran rempah-rempah seperti jahe, kayu secang, daun dan batang kayu manis, daun cengkeh, daun pala, serta gula batu.
Berkat khasiat rempah-rempahnya, wedang uwuh menjadi populer di kalangan masyarakat, tidak hanya di Imogiri tetapi juga meluas ke seluruh wilayah Yogyakarta, bahkan daerah lain di Indonesia.
Sejarah wedang uwuh memiliki kaitan erat dengan masa pemerintahan Raja Mataram yakni Sultan Agung.
Pada suatu malam yang dingin di Bukit Merak, Imogiri, Sultan Agung meminta pengawalnya untuk membuatkan wedang secang.
Namun karena angin malam yang kencang, beberapa daun dan ranting jatuh ke dalam minuman tersebut.
Tanpa disadari, Sultan Agung merasakan kenikmatan dari campuran rempah dan daun-daun tersebut.
Minuman ini kemudian dikenal sebagai wedang uwuh yang dalam bahasa Jawa berarti 'minuman sampah' karena tampilan bahan-bahan di mana bercampur menyerupai sampah.
Dalam perkembangannya, wedang uwuh menjadi minuman istimewa di lingkungan Keraton Mataram, khususnya untuk menjamu tamu-tamu kerajaan.
Racikannya yang sederhana namun penuh manfaat membuat minuman ini semakin digemari oleh masyarakat luas.
Racikan wedang uwuh umumnya terdiri dari serutan kayu secang, jahe, daun cengkeh, serai, kapulaga, daun pala, dan gula batu. Minuman ini memiliki banyak khasiat kesehatan, seperti menghangatkan tubuh dan meningkatkan stamina.
Baca Juga: Lowongan Kerja, Pemkab Magelang Buka 575 Formasi PPPK
Kini, wedang uwuh dijual dalam berbagai kemasan modern mulai dari bentuk paket siap seduh hingga versi celup sehingga lebih praktis dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang.
Meskipun modernisasi telah membuat wedang uwuh lebih mudah dinikmati, minuman ini tetap lekat dengan daerah asalnya, Imogiri.
Banyak pengunjung yang datang ke Imogiri untuk merasakan sensasi asli wedang uwuh.
Minuman ini tetap dilestarikan oleh masyarakat sebagai warisan kuliner yang tak terpisahkan dari sejarah Kerajaan Mataram. (Fedora Reyvi Apta Nayottama)
Penulis:
Sumber: ,