Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Lempuyang: Si ‘Makanan Ular’ yang Ternyata Menyimpan Khasiat Luar Biasa bagi Kesehatan

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 18 Juli 2025 | 21:52 WIB
Tumbuhan herbal lempuyang.
Tumbuhan herbal lempuyang.

RADAR PURWOREJO - Lempuyang (Zingiber zerumbet) mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, namun bagi masyarakat pedesaan Indonesia, tanaman rimpang ini sudah lama dikenal baik sebagai bumbu dapur maupun obat tradisional.

Uniknya, lempuyang kerap disebut sebagai “makanan ular”, sebuah julukan yang berasal dari mitos lokal tentang perilaku ular hutan.

Namun di balik sebutan itu, tanaman ini menyimpan segudang manfaat yang telah terbukti secara ilmiah.

Termasuk dalam keluarga jahe-jahean (Zingiberaceae), lempuyang telah digunakan secara turun-temurun untuk mengatasi gangguan pencernaan, menambah nafsu makan, meredakan demam, dan melancarkan siklus menstruasi.

Kini, manfaat tersebut diperkuat oleh temuan ilmiah dari lembaga-lembaga kredibel seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), LIPI, dan Balai Besar Penelitian Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT).

Rimpang lempuyang kaya akan senyawa bioaktif seperti zerumbone, flavonoid, saponin, polifenol, dan minyak atsiri.

Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki berbagai efek positif bagi tubuh, antara lain:

• Antioksidan: Melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
• Antiinflamasi: Mengurangi peradangan dan nyeri.
• Antimikroba: Membantu melawan infeksi bakteri dan jamur.
• Pelindung Hati (Hepatoprotektif): Menjaga fungsi hati dari kerusakan akibat zat toksik.

Berdasarkan catatan dari Kementerian Kesehatan RI, lempuyang biasa diolah menjadi rebusan atau jamu untuk membantu mengatasi gejala masuk angin, mual, kembung, hingga siklus haid yang tidak teratur.

Sebutan ini berasal dari pengamatan masyarakat bahwa ular sering berada di sekitar semak lempuyang.

Meski belum ada penelitian yang membuktikan ular benar-benar memakan tanaman ini, para ahli menduga aroma kuat dari minyak atsiri yang terkandung di dalamnya dapat menarik perhatian reptil tertentu.

Namun demikian, nilai utama lempuyang tentu bukan dari mitos ini, melainkan dari kemampuannya membantu menjaga kesehatan tubuh.

Meski alami, penggunaan lempuyang tetap harus bijak.

Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan iritasi lambung, terutama bagi penderita maag.

Selain itu, ibu hamil sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis sebelum mengonsumsi produk berbahan dasar tanaman ini.

Di tengah tren kembali ke pengobatan alami, lempuyang mulai dilirik sebagai bahan baku produk kesehatan berbasis tanaman.

Sejumlah pelaku industri herbal lokal dan peneliti tengah mengembangkan lempuyang dalam bentuk teh herbal, kapsul, hingga minyak oles.

Langkah ini sejalan dengan program WHO dalam strategi global pengobatan tradisional tahun 2025, yang mendorong pemanfaatan tanaman obat asli untuk pengobatan komplementer.

Lempuyang bukan sekadar tanaman pinggir hutan atau bahan pelengkap masakan.

Dengan khasiat yang telah dikaji secara ilmiah, tanaman ini layak diberi tempat dalam pola hidup sehat masyarakat Indonesia.

Kini saatnya memanfaatkan kekayaan alam Nusantara secara cerdas dan bertanggung jawab. (Tri Advent Sipangkar)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#masyarakat pedesaan #Tumbuhan #obat tradisional #lokal #tanaman rimpang #herbal #mitos #efek positif #Lempuyang #indonesia