RADAR PURWOREJO - Buah Maja adalah tanaman dari suku jeruk-jerukan atau Rutacea.
Buah Maja atau biasa dikenal dengan buah Bael yang memiliki nama latin Aegle marmelo.
Buah ini tumbuh di berbagai negara Asia, salah satunya di Indonesia.
Rasa dari buah Maja sedikit pahit dan manis.
Buah Maja merupakan buah perdu, yang mana kulit dari buah ini sebesar bola volly dan berwarna hijau serta memiliki tempurung yang sangat keras, bahkan lebih keras dari tempurung kelapa.
Banyak orang dahulu memakai kulit buah maja untuk dijadikan perkakas, seperti mangkuk dan gayung air.
Buah ini menjadi ikon Majalengka dan menjadi simbol kebesaran serta kemenangan bagi Kerajaan Majapahit sejak kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya dan berhasil menghancurkan Kerajaan Kediri.
Maja juga menjadi lambang negara (wilma), yang pada dasarnya pola geringsing merah (geringsing lobheng lewih laka), sebagaimana dikisahkan dalam buku “menuju puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit” karya Slamet Muljana.
Penetapan dari lambang negara ini memiliki sejarah yang panjang.
Hal ini juga dikisahkan pada naska Kidung Panji Wijayakrama, yang mana awal Raja Majapahit Raden Wijaya kembali dari Mameling dan mengejutkan Kota Singasari yang telah diduduki oleh tentara Raja Jayakatwang musuhnya dari Kediri.
Raden wijaya dan pengikutnya diserang oleh tentara musuh yang dipimpin oleh Mahisa Mundarang.
Pada pertempuran itu ia kalah dan lari melalui persawahan.
Ketika hampir tertangkap Raden Wijaya menendang tanah basah lalu tanah itu jatuh pada dada dan dahi Mahisa Mundarang.
Raden Wijaya masih terlihat dan akhirnya Kebo Mundarang mundur kembali.
Raden Wijaya terus berlari, seluruh badannya kotor penuh dengan lumpur.
Setelah mereka dapat beristirahat Raden Wijaya dan pengikutnya berganti pakaian, wujud pemberian itu ialah cawet geringsing.
Pemberian geringsing itu membuat semangat mereka berkobar.
Mereka percaya bahwa akan menang. Sorenya mereka maju dan menuju ke Singasari.
Mengenai lambang yang berupa Wilma atau maja, uraiannya terdapat dalam Kidung Panji Wijayakrama IV.
Banyak orang dari Madura datang di tanah tandus tarik.
Mereka datang untuk menebang lalang di hutan, dan ketika mereka lapar, mereka akan masuk ke hutan untuk mencari buah-buahan.
Di dalam hutan mereka bertemu dengan banyak pohon yang berbuah dan memetik buah itu lalu dimakan.
Rasa dari buat tersebut sangatlah pahit, buah itu adalah buah maja atau Wilma.
Oleh karena itu hutan itu dibuka dan diberi nama Wilwatika atau Majapahit. (Priskila)
Editor : Meitika Candra Lantiva