RADAR PURWOREJO - Setiap bulan Ramadan datang, suasana pasar dan pinggir jalan di Indonesia selalu berubah.
Salah satu tanda yang paling mudah dijumpai adalah mulai banyaknya timun suri yang dijajakan.
Buah ini hampir selalu hadir sebagai pelengkap berbuka puasa, baik di rumah, masjid, hingga penjual takjil dadakan.
Rasanya yang ringan dan menyegarkan membuat timun suri seolah menjadi buah wajib saat Ramadan tiba.
Timun suri dikenal sebagai buah yang tumbuh merambat dan masuk dalam keluarga labu-labuan.
Melansir remen.id, di beberapa daerah buah ini juga disebut sebagai timun betik atau barteh.
Meski namanya mengandung kata “timun”, secara ilmiah timun suri bukanlah mentimun.
Bentuk, struktur buah, hingga susunan genetiknya justru lebih dekat dengan melon dan labu, sehingga karakternya pun berbeda dari mentimun pada umumnya.
Secara tampilan, timun suri memiliki bentuk lonjong dengan kulit berwarna hijau kekuningan.
Daging buahnya lembut, berair, dan tidak terlalu padat.
Tekstur inilah yang membuat timun suri terasa mudah dikunyah dan nyaman dikonsumsi setelah seharian berpuasa.
Kandungan airnya yang tinggi membantu tubuh mengganti cairan yang hilang selama menahan haus sejak pagi hingga magrib.
Menariknya, timun suri biasanya dijual dalam kondisi setengah matang, terutama menjelang dan selama bulan Ramadan.
Pada kondisi ini, rasa buah tidak terlalu manis dan tidak terlalu tawar, sehingga cocok dipadukan dengan sirup, gula, atau es batu.
Inilah alasan mengapa timun suri sering dijadikan minuman berbuka puasa yang sederhana tapi menyegarkan.
Di balik kesederhanaannya, timun suri ternyata menyimpan berbagai zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh.
Melansir Wagner Healthcare, buah ini mengandung vitamin A dan vitamin C yang berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh.
Selain itu, terdapat juga mineral seperti kalium dan magnesium yang membantu menjaga keseimbangan cairan dan fungsi otot selama berpuasa.
Salah satu kandungan yang cukup menarik dari timun suri adalah vitamin K.
Vitamin ini dikenal memiliki peran dalam menjaga kesehatan tulang dan fungsi saraf.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa vitamin K juga membantu melindungi sel-sel otak dari kerusakan.
Dengan kata lain, mengonsumsi timun suri dalam jumlah wajar dapat memberikan dukungan bagi kesehatan otak dalam jangka panjang.
Selain itu, timun suri juga mengandung berbagai zat antioksidan.
Antioksidan berfungsi menangkal radikal bebas, yaitu zat berbahaya yang dapat merusak sel-sel tubuh.
Kandungan vitamin C dan beta karoten di dalam timun suri membantu menjaga sistem kekebalan tubuh dan mendukung kesehatan mata.
Ini membuat timun suri bukan hanya menyegarkan, tetapi juga memberi perlindungan dari dalam tubuh.
Manfaat lain yang paling sering dirasakan dari timun suri adalah kemampuannya membantu sistem pencernaan.
Kandungan air dan seratnya membantu melunakkan makanan di saluran cerna, sehingga baik untuk orang yang sering mengalami sembelit atau gangguan pencernaan ringan.
Saat Ramadan, ketika pola makan berubah, timun suri bisa menjadi pilihan aman untuk membantu menjaga kenyamanan perut.
Dalam beberapa penelitian, buah-buahan dari keluarga labu-labuan, termasuk timun suri, juga diketahui mengandung senyawa alami yang berpotensi menghambat pertumbuhan sel tidak normal dalam tubuh.
Senyawa ini bekerja dengan cara mengganggu proses yang mendukung perkembangan sel tersebut.
Meski bukan pengganti pengobatan medis, konsumsi buah ini dapat menjadi bagian dari pola makan sehat sehari-hari.
Karena kandungan airnya yang tinggi, timun suri juga berperan penting dalam menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Saat berbuka puasa, tubuh membutuhkan cairan secara bertahap agar tidak kaget.
Minuman berbahan timun suri yang dingin dan ringan membantu tubuh beradaptasi kembali setelah seharian tidak minum.
Timun suri sendiri telah menjadi bagian dari budaya Ramadan di Indonesia.
Kehadirannya selalu membawa kesan sederhana, segar, dan menenangkan.
Dari meja berbuka di rumah hingga jajanan kaki lima, timun suri hadir sebagai simbol kecil kebahagiaan setelah seharian berpuasa.
Dengan segala manfaat dan kesegarannya, timun suri layak dinikmati bukan hanya karena tradisi, tetapi juga karena kebaikannya bagi tubuh.
Mengonsumsinya dalam porsi yang cukup saat berbuka puasa bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan, mengembalikan energi, dan membuat momen berbuka terasa lebih nyaman dan menyenangkan. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva