Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Waspada Praktik Panen Dini dan Campuran Sirup, Pakar UGM Ungkap Cara Deteksi Madu Palsu

Editor Content • Selasa, 12 Mei 2026 | 05:50 WIB
Manfaat madu bagi kesehatan.
Manfaat madu bagi kesehatan.

 

Madu terus menunjukkan potensinya sebagai komoditas unggulan yang mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menembus pasar global. Dengan kekayaan hutan tropis Indonesia, ketersediaan nektar alami menjadi modal besar dalam pengembangan industri madu nasional yang berkelanjutan.

Secara global, terdapat setidaknya 300 jenis madu yang dihasilkan oleh lebih dari 20.000 spesies lebah. Jenis-jenis madu tersebut umumnya ditentukan berdasarkan nektar atau sari bunga yang dihisap oleh lebah.

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Prof. Dr.rer.nat. apt. Nanang Fakhrudin, M.Si., menjelaskan bahwa madu memiliki kandungan senyawa antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, serta berperan penting dalam penyembuhan luka.

Baca Juga: Pengajian POT SMP Negeri 2 Kalasan Jadi Wadah Penguatan Akhlak dan Spiritual Siswa

"Manfaat tersebut dipengaruhi oleh komposisi fenolik, enzim, kadar gula, serta karakter fisikokimia madu," ujar Nanang dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Senin (11/5).

Menurut Nanang, madu kini semakin diminati sebagai pemanis alami yang rendah kalori dan kaya nutrisi. Meningkatnya kesadaran kesehatan masyarakat turut mendorong pertumbuhan usaha madu lokal. Namun, pertumbuhan ini belum dibarengi dengan pemahaman komprehensif mengenai parameter mutu, seperti kadar air, aktivitas enzim diastase, kandungan hidroksimetilfurfural (HMF), hingga profil gula.

"Pemahaman pelaku usaha terhadap standar internasional seperti Codex Alimentarius maupun Standar Nasional Indonesia (SNI) juga masih sangat terbatas," imbuhnya.

Baca Juga: Operasi Katarak Gratis di RSUD Sleman Jadi Bagian dari Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman

Ia menggarisbawahi beberapa permasalahan utama yang dihadapi industri madu tanah air, antara lain rendahnya literasi standar mutu, minimnya metode ilmiah untuk mendeteksi madu palsu (adulterasi), serta terbatasnya akses terhadap pengujian laboratorium yang independen. Tanpa kualitas yang terjaga, pelaku usaha akan sulit bersaing di pasar global yang kompetitif.

Waspadai Praktik Adulterasi dan Klaim Palsu Nanang juga menyoroti maraknya praktik adulterasi, mulai dari panen dini hingga penambahan bahan seperti sirup gula tebu dan sirup jagung tinggi fruktosa. Selain merugikan ekonomi, hal ini menurunkan kepercayaan konsumen. Praktik pemalsuan asal-usul, seperti mengklaim madu biasa sebagai madu hutan atau klanceng demi menaikkan harga, juga kerap terjadi.

Padahal, secara sains telah dikembangkan berbagai metode deteksi keaslian seperti isotopic ratio mass spectrometry (IRMS), nuclear magnetic resonance (NMR), hingga kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC).

Baca Juga: Berawal dari Provokasi, Remaja Tewas Dikeroyok di Magelang, Polisi Tangkap 9 Pelaku

"Sayangnya, metode-metode canggih ini belum banyak dipahami pelaku usaha lokal karena keterbatasan akses dan literasi," ungkapnya.

Menyikapi tantangan tersebut, Nanang menekankan pentingnya pendekatan edukasi yang disesuaikan dengan latar belakang masyarakat, termasuk para petani lebah. Edukasi tidak boleh hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik sederhana yang aplikatif di lapangan.

"Peningkatan literasi sains harus mempertimbangkan konteks kebutuhan masyarakat. Pendekatannya tidak bisa seragam, tetapi harus relevan dengan aktivitas produksi mereka," tegasnya.

Baca Juga: 11 Anak Yang Dititpkan di Rumah Pakem Merupakan Titipan Para Mahasiswa

Ia berharap melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha, industri madu Indonesia tidak hanya mampu mengidentifikasi produk palsu, tetapi juga meningkatkan kualitas produk secara keseluruhan.

Dengan penguatan riset aplikatif, madu Indonesia diharapkan memiliki daya saing kuat di pasar internasional dan memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Editor : Heru Pratomo
#Madu #sampuran sirup #adulterasi #madu palsu #UGM