RADAR PURWOREJOP - Sebagai salah satu makhluk yang disebutkan dalam al-Quran, laba-laba menjadi sebuah contoh yang menunjukkan kebesaran Allah bahkan pada makhluk kecil sekalipun.
Seperti pada Surah Al-Ankabut ayat 41;
مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَاۤءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًاۗ وَاِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ٤١
matsalulladzînattakhadzû min dûnillâhi auliyâ'a kamatsalil-‘angkabût, ittakhadzat baitâ, wa inna auhanal-buyûti labaitul-‘angkabût, lau kânû ya‘lamûn.
Artinya: Perumpamaan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung adalah seperti laba-laba betina yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba. Jika mereka tahu, (niscaya tidak akan menyembahnya).
Dalam surat ini, Allah menyebutkan bahwa “sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba”, sekilas ini tampak berlawanan dengan penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa jaring laba-laba adalah salah satu material terkuat di dunia, bahkan melebihi kekuatan baja apabila dibandingkan dengan massanya.
Namun, pernyataan ayat tersebut memang benar adanya apabila dipahami secara mendalam, sebab yang disebut lemah oleh al-Quran adalah rumah laba-laba, bukan jaring laba-laba.
Tidak hanya lemah secara fisik, “rumah” laba-laba pun lemah secara biologis maupun sosial.
Tak jarang laba-laba betina membunuh dan memakan pasangannya setelah proses kawin, sehingga “rumah” tersebut tidak menghadirkan rasa aman, tenang, maupun kasih sayang.
Oleh karena itu, Allah menjadikan rumah laba-laba sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang mencari perlindungan atau pertolongan kepada selain-Nya.
Padahal, apa yang mereka jadikan sandaran itu sebenarnya sangat rapuh dan dapat hancur kapan saja.
Melansir dari Instagram @cqfevent, Ayat tersebut juga menjadi bukti keistimewaan al-Quran, karena pada zaman Rasulullah SAW manusia belum mengenal sains biologi atau kajian lainnya yang dapat menjelaskan interaksi sosial laba-laba dan sifat rumahnya yang sangat rapuh.
Perumpamaan ini menjadi sebuah pengingat bagi manusia untuk selalu meminta perlindungan dan harapan hanya kepada Allah SWT dan tidak seharusnya menaruh harapan pada segala yang bersifat duniawi dan mudah hancur. (Desfina Citra)