Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Ternyata, Setiap Niat yang Diucapkan Menentukan Amal Perbuatan Kita, Ini Penjelasannya

Nadiva Aiszhabella • Jumat, 5 April 2024 | 00:01 WIB
Illustrasi doa setelah salat Tarawih.
Illustrasi doa setelah salat Tarawih.

 

 

RADAR PURWOREJO – “Niat”, kata yang sudah tidak asing kita dengar dan ucapkan setiap kali ingin mengerjakan sesuatu. Dengan mengucapkan Niat, berarti kita bersungguh-sungguh ingin mengerjakan suatu hal tersebut.

Niat tidak hanya yang terucap lewat lisan, namun niat yang kita ucapkan dalam hati juga menjadi pembuka jalan untuk kita bergerak melakukan sesuatu yang kita niatkan tersebut.

Mengutip dari NU Online Sumenep, pengertian niat bisa dipahami sebagai tergeraknya hati menuju suatu tujuan yang sudah ditentukan atau tolak ukur untuk memperkuat suatu tindakan yang hendak dikerjakan.

Karena dasarnya niat berasal dari hati, sulit bagi seseorang melakukan suatu pekerjaan tetapi ternyata hatinya tidak tergerak, kecuali ia melakukannya dengan terpaksa. Segala pekerjaan atau perbuatan yang dilakukan dengan terpaksa, tidak termasuk sebagai pekerjaan yang memiliki tujuan.

Dalam ilmu fiqih, terdapat suatu bentuk pekerjaan yang dilakukan manusia, namun terdapat dua hukum yang berbeda. Contohnyan adalah ketika seorang Wanita dalam masa haid membawa sebuah tas yang di dalamnya berisi kebutuhan pribadinya dan terselip sebuah Al-Qur’an. Terdapat dua pendapat mengenai hal ini.

Pendapat pertama mengatakan bahwa hukumnya tidak boleh membawa tas tersebut jika niatnya hanya membawa Al-Qur’an. Sedangkan, pendapat kedua memperbolehkan karena niatnya hanya membawa tas tersebut, bukan Al-Qur’an yang ada di dalamnya.

Hadits mengenai niat berbunyi:

سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى المِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

“Saya mendengar Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu di atas mimbar berkata: saya mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal seseorang tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasakan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah untuk memperoleh dunia dan wanita yang ingin dinikahinya, maka (balasan) hijrahnya itu sesuai dengan niat berhijrahnya itu.” (Shohih Bukhori 6:1).

Penjelasan terkait hadits tersebut diatas mengutip dari NU Online Jateng bisa dipahami, bahwa amal kebaikan tergantung pada niat pelakunya. Jika amalan tersebut tujuannya ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya, maka amal tersebut akan tertuju kepada Allah.

Namun jika tujuannya untuk menggapai urusan dunia, maka ia hanya mendapatkan apa yang ia cari di dunia itu saja.

Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam berniat. Niat yang baik akan mendatangkan hal yang baik pula, begitu sebaliknya. Jangan asal ucapkan kalimat “yang penting niat” jika hati kita setengah-setengah melakukan pekerjaan tersebut atau dalam keadaan terpaksa. Karena itu semua tidak akan memiliki nilai. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Heru Pratomo
#doa #niat