RADAR PURWOREJO - Bulan sabit dan bintang telah menjadi identitas yang melekat pada agama Islam.
Di seluruh dunia, kita dapat menemukan simbol ini menghiasi rumah ibadah masjid-masjid, bendera negara, sampai aksesoris islami.
Namun, tahukah anda, meskipun dikenal sebagai lambang islam, ternyata latar belakang dan makna simbol ini lebih kompleks dan tidak sepenuhnya berasal dari agama Islam.
Bahkan di masa Nabi Muhammad SAW sendiri, umat Islam mengibarkan bendera sederhana, yang berwarna hitam, hijau atau putih saja.
Awal Mula
Pada mulanya, penggunaan bulan sabit dan bintang sebagai simbol islam, berawal dari Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman).
Saat Ottoman berkuasa, lambang bulan sabit dan bintang digunakan pada bendera kekaisaran mereka.
Kesultanan Utsmaniyah mengadopsi simbol itu setelah berhasil menaklukkan kota Konstantinopel (kota Istanbul masa kini) pada tahun 1453.
Sebelumnya Kota Konstantinopel adalah ibu kota Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur), yang mana mereka sudah lama menggunakan bulan sabit sebagai simbol perlindungan oleh dewi perawan Artemis serta dari tradisi pagan.
Baru setelah kota Konstantinopel jatuh ke tangan muslim Utsmaniyah, maka simbol ini diadopsi dan disatukan ke dalam bendera kesultanan, dan tersebar luas ke seluruh dunia Muslim.
Sehingga muncul anggapan bahwa bulan bintang adalah simbol yang identik pada islam.
Namun, pada masa Nabi Muhammad SAW dan awal islam, simbol ini tidak pernah diperkenalkan dan digunakan.
Al-Qur'an dan Hadits juga tidak menyebutkan bulan sabit dan bintang adalah simbol resmi islam.
Makna Spiritual
Meskipun dalam sejarah penggunaan lambang bulan dan bintang lebih erat kaitannya dengan kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, bulan sabit dan bintang juga memiliki makna spiritual mendalam pada umat Muslim.
Terkhusus bulan sabit, memiliki hubungan dengan kalender islam Hijriah.
Ketika umat muslim menandai waktu ibadah, perayaan, awal dan akhir bulan Islam, metode penentuannya dengan melihat bulan sabit di langit.
Sehingga bulan sabit tidak hanya erat hubungannya dengan sejarah Utsmaniyah saja, namun berhubungan dengan hari penting umat Muslim, seperti mulainya Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Selain itu, dalam pandangan islam, bulan dan bintang juga sering terkait dengan cahaya petunjuk.
Dalam Al-Qur'an dijelaskan disebut bahwa bintang menjadi alat penunjuk bagi manusia di malam hari.
Ketika di lautan atau di padang pasir manusia bisa memanfaatkan bintang sebagai media penunjuk navigasinya.
Pengaruh Modern
Sampai masa kini, banyak negara dan organisasi Muslim yang menggunakan bulan dan bintang sebagai identitasnya. Contohnya, bendera negara Turki, Aljazair, dan Pakistan.
Dengan mengadopsi simbol bulan dan bintang di bendera nya, menunjukkan keterkaitan budaya dan sejarah mereka erat dengan Islam.
Dalam Organisasi Palang Merah sendiri, terdapat simbol bulan merah, yang juga dimaknai sebagai tanda perlindungan dan kemanusiaan.
Meskipun dianggap simbol Islam, tidak semua negara dan kelompok Islam menggunakan bulan dan bintang sebagai simbolnya.
Karena simbol tersebut tidak berdasar Islam sesuai ajaran Al-Qur'an dan Hadits.
Contohnya di negara Arab Saudi dan Mesir, negara ini tidak menggunakan simbol bulan dan bintang di bendera nasional mereka sebagai simbol resmi Islam, meskipun negara mereka adalah bermayoritas dan berpaham islam kuat.
Simbol bulan sabit dan bintang yang identik dengan Islam saat ini adalah hasil dari sejarah politik dan budaya.
Meskipun demikian, simbol tersebut juga bermakna spiritual mendalam bagi banyak umat Muslim.
Terkhusus erat kaitannya dengan kalender Islam dan sebagai petunjuk navigasi manusia dalam perjalanan, sesuai ajaran Al-Qur'an. (Muhammad Affan Himawan)
Editor : Meitika Candra Lantiva