RADAR PURWOREJO - Dalam tradisi keilmuan Islam di Indonesia, kajian hadis lebih sering berfokus pada ilmu riwayah (periwayatan) dibanding dirayah (pemahaman mendalam terhadap makna).
Kitab-kitab hadis yang dipelajari juga beragam, mulai dari kitab hadis primer (al-kutub al-ashliyyah) hingga kitab sekunder (al-kutub al-far’iyyah).
Kitab primer seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan an-Nasa’i, Sunan at-Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah merupakan sumber hadis utama yang disusun dengan sanad lengkap hingga Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, kitab sekunder seperti Arba’in Nawawiyah dan Bulûghul Maram berisi kumpulan hadis yang bersandar pada sumber primer tanpa mencantumkan sanad secara detail, sehingga lebih mudah dipelajari oleh kalangan umum.
Salah satu kitab sekunder paling populer di dunia Islam, termasuk di pesantren-pesantren Nusantara, adalah Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi rahimahullah.
Meskipun dinamai Arba'in (empat puluh), kitab ini sebenarnya berisi 42 hadis yang menjadi dasar penting dalam ajaran Islam.
Kitab ini berisi 42 hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi inti ajaran Islam, mencakup pokok-pokok agama (ushul), cabang-cabang (furu’), serta adab, jihad, dan niat amal.
Kitab ini memuat kumpulan hadis-hadis yang meskipun tidak disertai sanad secara lengkap, tetap bersandar pada sumber-sumber utama seperti karya Imam al-Bukhari dan ulama lainnya.
Ulama dan Latar Belakang Penulis
Imam An-Nawawi bernama lengkap Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, adalah seorang ulama besar bermazhab Syafi’i yang lahir di desa Nawa, Suriah bagian selatan pada tahun 631 H.
Dia dikenal sebagai sosok alim, zuhud, dan tekun menuntut ilmu hingga wafat pada tahun 673 H dalam usia 46 tahun.
Karya-karyanya tersebar di berbagai cabang ilmu, antara lain Syarh Shahih Muslim, Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, dan tentu saja Al-Arba’in An-Nawawiyah.
Makna dan Tujuan Penulisan
Imam An-Nawawi menyusun kitab ini terinspirasi oleh sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Siapa pun di antara umatku yang menghafal empat puluh hadis tentang perkara agamanya, maka Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat bersama golongan fuqaha dan ulama.”
(HR. Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abu Darda, Ibnu Umar, dan lainnya dengan beberapa jalur riwayat)
Meski hadis tersebut tergolong dha’if, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa ia dapat diamalkan dalam konteks keutamaan amal, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Taysir Mushthalah al-Hadits karya Dr. Mahmûd ath-Thahhan.
Dalam mukadimah kitabnya, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa semua hadis yang dihimpun adalah hadis sahih, sebagian besar bersumber dari Shahih Bukhari dan Muslim.
Ia menulis tanpa menyertakan sanad lengkap agar kitab ini mudah dihafal dan dipahami oleh masyarakat luas.
Struktur dan Metodologi Penyusunan
Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah terdiri atas dua bagian utama: mukadimah (pembukaan) dan isi hadis. Setiap hadis diberi nomor urut (hadis pertama, kedua, dan seterusnya) tanpa bab tematik seperti dalam kitab fikih.
Dalam penulisannya, Imam An-Nawawi menerapkan beberapa metode:
1. Menyebutkan hadis berdasarkan urutan nomor, bukan bab fikih.
2. Tidak mencantumkan sanad kecuali nama sahabat perawi.
3. Menyebutkan sumber hadis dari kitab induk seperti Bukhari dan Muslim.
4. Menyertakan keterangan tambahan jika ada perbedaan redaksi dalam riwayat yang lain.
Pendekatan ini menjadikan kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah sangat praktis dan efektif sebagai bahan dasar dalam pembelajaran hadis bagi pemula.
Baca Juga: Momotong Kuku dalam Agama Islam Ternyata Ada Hari Sunnahnya Lho, Yuk Simak Penjelasannya!
Keunggulan Kitab Arba’in An-Nawawiyah
Kitab ini memiliki keistimewaan tersendiri dibanding karya hadis ringkas lainnya:
1. Ringkas tapi padat makna.
Setiap hadis dalam kitab ini mencerminkan jawami‘ al-kalim-perkataan Rasulullah yang singkat namun bermakna luas.
2. Menjadi dasar hukum syar’i.
Banyak hadis di dalamnya menjadi kaidah besar dalam Islam, seperti hadis pertama tentang niat yang oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali disebut “poros agama Islam”.
3. Kesahihan terjamin.
Mayoritas hadis di dalamnya disepakati kesahihannya oleh para ulama, sebagaimana ditegaskan oleh Imam An-Nawawi sendiri.
4. Mencakup tema-tema utama ajaran Islam.
Setiap hadis dalam kitab ini dianggap sebagai “kaidah besar agama” yang menjadi fondasi akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.
Popularitas dan Syarah Kitab
Seiring waktu, banyak ulama yang menulis syarah (penjelasan) terhadap kitab ini. Di antaranya:
- Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah oleh Ibnu Daqiq al-‘Aid
- Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah oleh Farid Nu’man
- Al-Wafi fi Syarh Al-Arba’in oleh dr Mustafa Dieb al-Bugha dan dr Muhyiddin Mistu.
- Fath Al-Qawiyy Al-Matiin oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
- At-Tuhfah Ar-Rabbaniyyah oleh Ismail Al-Anshary,
dan banyak lagi.
Kitab ini menjadi bacaan wajib di berbagai lembaga pendidikan Islam karena kemudahan dan kedalaman isinya.
Seperti disampaikan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad.
“Kitab pertama yang sepatutnya dipelajari oleh penuntut ilmu hadis adalah Al-Arba’un An-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi.”
Relevansi bagi Kajian Hadis di Indonesia
Bagi masyarakat Muslim Indonesia, Al-Arba’in An-Nawawiyah memiliki posisi istimewa.
Ia menjadi jembatan antara ilmu hadis riwayah dan dirayah, serta menjadi media pembelajaran moral dan spiritual.
Karena sebagian besar hadisnya diambil dari Shahihain (Bukhari dan Muslim), para pelajar tidak perlu menelusuri sanad secara mendalam, namun tetap memperoleh pemahaman inti dari ajaran Nabi.
Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah bukan sekadar karya klasik, melainkan fondasi ilmu yang relevan sepanjang masa.
Ia merangkum pokok-pokok Islam dalam 42 hadis yang padat makna, menjadi panduan bagi siapa pun yang ingin memahami dan mengamalkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sederhana, mendalam, dan berlandaskan keilmuan. (Muhtar Dinata)